Friday, September 08, 2006

BERKELIT DI TENGAH REPRESI KEKUASAAN

Cerita tentang TEMPO, sejarah, politik pemberitaan, pergulatan menghadapi kekuasaan, konflik internal, rumors politik. Dan TEMPO tetap bertahan.

---------------------------------------------------------
Wars Within, The Story of TEMPO, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia
Oleh: Janet Steele
Penerbit: PT Equinox Publishing Indonesia, Jakarta, dan Institute of Southeast Asian Studies, Singapura, 2005, 336 hal. + xxxiv.
----------------------------------------------------------

TEMPO, tak ayal, merupakan sebuah fenomena dalam babak baru sejarah pers bebas Indonesia. Dan Goenawan Mohamad (GM), pendiri dan pemimpin redaksi (pertama) majalah berita mingguan itu, sejak semula hingga kini selalu tampil konsisten sebagai penggerak, sekaligus inspirator, bagi perjuangan menegakkan demokrasi dan kebebasan pers -- seorang intelektual dan budayawan, yang sebagaimana Mochtar Lubis (Indonesia Raya), Rosihan Anwar (Pedoman), atau S. Tasrif (Abadi), “berjihad” menentang ketidak adilan.

Babak baru sejarah pers bebas Indonesia dimulai sejak 1950-an hingga kini, ketika kaum jurnalis harus berhadapan dengan kekuasaan bangsa sendiri. Mereka meneruskan tradisi perlawanan generasi jurnalis babak sebelumnya di awal abad ke-20, ketika Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) menggeliat bersama Pembrita Betawi, Soenda Berita, dan Medan Prijaji melawan represi kekuasaan kolonial.


Buku Janet Steele, asisten dosen Universitas George Washington, Amerika Serikat, ini menarik. Ia cukup enak dan lancar menceritakan perjalanan TEMPO sejak diterbitkan (1971) hingga kasus terbaru mengenai Ada Apa di Tenabang-nya Tomy Winata, berikut konflik internal dan rumors politik yang menyertainya -- dengan bahasa tutur yang diskriptif, lancar dan segar. Dalam tahun-tahun belakangan ini ia memang sering mengajar “jurnalisme sastrawi” (saya lebih suka menggunakan istilah “jurnalisme literair”) dalam sebuah kelas yang digelar beberapa kali oleh Yayasan Pantau.

Di tengah terbatasnya literatur mengenai pers Indonesia, buku Wars Within hadir menyegarkan. Sejak Falsafah Ratu Dunia (Adinegoro, 1949), belum pernah terbit sebuah buku yang menceritakan profil sebuah penerbitan secara lengkap dan utuh. Beberapa literatur pers itu, sebutlah misalnya, Hak Ingkar Wartawan (Lembaga Pers dan Pendapat Umum, 1954), Lima Windu Antara (LKBN Antara, 1978), Sang Pemula (Pramoedya Ananta Toer, 1985), Pembreidelan Pers di Indonesia (Edward C. Smith, 1986), Mochtar Lubis Wartawan Jihad (Atmakusumah, 1992), Rahasia Dapur Majalah di Indonesia (Kurniawan Junaedhie, 1995), Pers Memihak Golkar? (Y. Krisnawan, 1997), Media Massa di Bawah Kapitalisme (Sirikit Syah, 1999), Jurnalisme Investigasi (Septiawan Santana Kurnia, 2003).

TEMPO, melalui Steele, harus dilihat sebagai “aspirasi masyarakat” yang berusaha bertahan terhadap represi kekuasaan, sebagai “a bigger picture of the political context” (hal. 56). Baik ketika pertama kali terbit (1971) -- sebagai alternatif setelah Ekspres terbentur kekuasaan -- ketika dua kali dibreidel, terutama pada 1994, maupun ketika berhadapan dengan pengusaha maha-kuat-modal seperti Tomy Winata. Meskipun dalam proses pergulatannya berhiaskan pernik-pernik rumors politik – yang menyiratkan kemungkinan sebagian awak redaksi TEMPO terkooptasi oleh kekuasaan – haruslah diakui integritas dan komitmen TEMPO terhadap demokrasi dan kebebasan pers tetap terjaga. Hingga kini.

Cerita tentang perpecahan di tubuh TEMPO – ketika 32 wartawan hengkang exodus untuk menerbitkan Editor (1987), atau pembreidelan TEMPO (1994), sudah pernah kita dengar. Tapi, rumors di balik kasus itu dengan enteng diungkapkan oleh Steele – dengan cara “meminjam” mulut para wartawan TEMPO yang ia wawancarai. Misalnya, dalam konteks exodus, seperti kata Saur Hutabarat, manajemen TEMPO tidak menganggap karyawan sebagai aset terpenting, sementara wartawan lain menilai manajemen sudah kehilangan rasa perikemanusiaan. Bahkan menurut Syu’bah Asa, manajemen tak berpihak kepada karyawan (hal. 201).

Ketika itu memang cukup santer “cerita burung” yang beredar dari mulut ke mulut, bahwa (sebagian) pemegang saham TEMPO konon selalu bilang, “The door is open” setiap kali ada karyawan yang melontarkan kritik – terutama menyangkut hal yang sensitif: saham. Tapi anehnya, atau uniknya, mereka yang pernah terlibat konflik tetap saja memelihara perkawanan. Bahkan Syu’bah Asa, misalnya, kini sering diundang sebagai mentor dalam inhouse training penulisan untuk wartawan di TEMPO bersama Amarzan Lubis, penyair dan editor yang baik, mantan tahanan politik di “pesantren” Pulau Buru.

Keberadaan Amarzan di TEMPO (dan rekannya sesama ex Buru, Manyaka Thayib) setidaknya juga mencerminkan keunikan TEMPO. Orang bilang, pemikiran politik GM, juga Fikri Jufri (FJ), dipengaruhi oleh Soedjatmoko, pemikir dan salah seorang tokoh penting Partai Sosialis Indonesia (PSI). Tapi, belakangan mereka merekrut Amarzan, Manyaka, dan sebelumnya juga mantan wartawan Harian Rakyat corong PKI, Martin Alaeda, sebagai redaktur. Padahal PSI dan PKI adalah musuh bebuyutan. Plinplan? Bukan, tapi semata-mata berkat kebesaran jiwa, visi kemanusiaan dan cita-cita demokrasi.

Anehnya, keberadaan kedua redaktur ex Buru itu tidak mengundang kontroversi atau rumors politik. Begitu pula keberadaan “kader-kader Islam” seperti Syu’bah Asa (jebolan IAIN), Usamah (aktivis Pelajar Islam Indonesia), Ahmad Wahib (dekat dengan Himpunan Mahasiswa Islam), Musthafa Helmy (yang jelas nahdliyin), atau Agus Basri (akrab dengan Muhammadiyah). Sebaliknya, rumors bahwa TEMPO dimodali oleh “pengusaha Cina” atau konon ”dikendalikan oleh PSI dan kaum sekuler” diam-diam pernah marak -- meski akhirnya lenyap dengan sendirinya.

Selama saya bekerja sebagai reporter TEMPO (1972-1994), kawan-kawan santai dalam bergaul, mulai dari GM sampai office boy Ishak atau Slamet. Kalaupun berbeda pendapat, terlibat dalam diskusi, boleh menggebrak meja. Tapi, setelah itu berkumpul lagi, berdiskusi atau bercanda dalam rapat perencanaan. Atau ngopi bareng di warung Tegal. Anda boleh berseberangan secara politik dengan redaktur lain, tapi masing-masing harus profesional, bekerja keras memenuhi dead line. Dan lebih sering menginap di kantor, tanpa mandi dan gosok gigi.

Yang menarik ialah kecurigaan bahwa FJ “main mata” dengan Ali Moertopo (hal. 110) dan Benny Moerdani (hal. 136, 137). Atau kekhawatiran adanya “kristenisasi” (hal. 124, 241). Saya mengenal FJ sebagai wartawan yang gesit, cenderung melakukan investigasi, editor yang efisien, dengan lobby yang luas. Sebagai kawan, ia hangat, peduli dan jenaka. Tapi, terkadang memang bikin jengkel: ia suka bercanda atau usil ngerjain teman.

Nah, kalaupun FJ dekat dengan Ali, Benny, atau pejabat lain, saya melihat hal itu sekedar sebagai lobby belaka. Cukup banyak wartawan TEMPO, seperti Toeti Kakiailatoe atau Susanto Pudjomartono – demikian pula wartawan media lain -- yang memiliki lobby luas. Dan setahu saya, tokoh-tokoh yang didekati oleh FJ termasuk tokoh kunci: Ali Moertopo, Benny Moerdani, Moerdiono, Ali Wardhana. Dan Ali maupun Benny didekati memang hanya sekedar untuk lobby (hal. 111, 137). Mengenai “kristenisasi” ternyata tidak terbukti.

Tapi, memang ada satu dua wartawan yang belakangan “terperosok” sehingga terkooptasi gara-gara menangguk keuntungan pribadi. Ada yang sangat dekat dengan seorang jenderal (hal. 106); bahkan sampai kini pun yang bersangkutan “menetap” dalam lingkaran politik sang jenderal. Tentu dengan keuntungan pribadi yang berlimpah dibanding jika ia hanya mengandalkan gaji sebagai redaktur. Ada pula, konon, yang berkat posisinya sebagai redaktur ekonomi, sangat akrab dengan para pengusaha.

Anda boleh geleng-geleng kepala atau berdecak membaca buku ini. Mungkin setelah membaca berbagai rumors politik yang terbeber jelas, atau berkat kepiawaian Steele bercerita dengan gaya jurnalisme literair. Yang jelas, seperti kata Bambang Bujono, TEMPO memang merupakan almamater, kampus tempat belajar menulis (hal. 12). Bayangkan, Bambang yang (calon) pelukis jebolan Akademi Seni Rupa Indonesia, datang dari Solo ke Jakarta, bekerja di majalah sastra Horison, tanpa pengetahuan jurnalistik, bergabung dengan TEMPO, belakangan menjadi editor yang baik. Begitu pula dengan Toriq Hadad atau Agus Basri yang bergabung dengan TEMPO -- as a fresh graduate.

Sementara GM, yang oleh para wartawan dianggap sebagai “guru”, justru berguru kepada TEMPO – sebagaimana ia akui dalam pengantar untuk buku panduan Misalkan Anda Wartawan TEMPO (1979): “... di kalangan TEMPO telah dan akan hadir kawan-kawan baru, sementara yang lama tak sedikit yang belum pernah bersintuhan dengan teori dasar jurnalistik sama sekali. Saya misalnya. Setelah beberapa belas tahun, baru setelah bekerja di TEMPO saya merasa mulai dapat mengarang prosa sebagaimana mestinya. Yaitu, antara lain, tidak ruwet...”

Lahir sebagai majalah yang memadukan kecepatan jurnalisme dan kepiawaian bersastra, TEMPO berusaha tetap bertahan dari godaan kekuasaan, juga dari “amplop.” Lebih dari itu, sang almamater – langsung atau tidak -- telah berhasil meneteskan inspirasi bagi lahirnya genre jurnalisme baru, dan ikut mendorong kesadaran akan mutlaknya kebebasan pers dalam proses demokratisasi yang tengah tumbuh.

*) Dimuat di Majalah Berita Bergambar GATRA, 2 Juli 2005.


Budiman S. Hartoyo
***

2 comments:

Anonymous said...

Bang BSH...membaca tulisan abang membuat saya mendapatkan pencerahan tentang bagaimana menulis yang baik, enak dibaca dan berisi...sungguh luar biasa gaya tulisan literair itu.
meski belum pernah bertatap muka namun harapan saya hanya satu, semoga bang BSH diberi umur yang panjang sehingga bisa menelorkan tulisan-tulisan lain sebagai bahan referensi bagi wartawan2/mereka yang ingin belajar menulis seperti saya..

budimanshartoyo.blogspot.com said...

Terimakasih atas doa Anda. Yang terpenting kita selalu belajar, belajar, belajar, bekerja, bekerja dan berkarya.