Wednesday, December 03, 2008

BAGAIMANA MENJADI WARTAWAN PROFESIONAL?


Pengantar kuliah umum di depan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Komunikasi Universitas Nasional, 18 November 2008.

/ Budiman S. Hartoyo

BANYAK mahasiswa, anak muda pada umumnya, yang ingin menjadi wartawan. Motifnya macam-macam. Ada yang beranggapan, menjadi wartawan itu keren, bergengsi, dapat masuk ke mana-mana, bisa ketemu dengan pejabat atau artis untuk wawancara, dan sebagainya. Persepsi seperti itu sesungguhnya salah, bahkan menyesatkan. Profesi wartawan bukan untuk ”gagah-gagahan”. Profesi ini sangat jauh dari persepsi yang sepele seperti itu. Dunia pers, dengan demikian juga wartawan, adalah kepanjangan tangan publik, penyambung lidah rakyat, terutama rakyat yang tertindas, the silence majority. Bahkan dalam negara yang demokratis, pers merupakan the fourth estate (pilar ke empat) dari sistem demokrasi, di samping eksekutif, legislatif, yudikatif. Luar biasa, bukan?

Untuk dapat menjalani profesi wartawan yang benar, serius, sungguh-sungguh, Anda harus memenuhi tiga hal. Bolehlah kita sebut sebagai ”trilogi jurnalisme”. Pertama, Anda harus profesional. Bukan hanya wartawan, semua profesi, jabatan, pekerjaan, sesungguhnya harus dikerjakan secara profesional. Wartawan yang profesional ialah yang memahami tugasnya, yang memiliki skill (ketrampilan), seperti melakukan reportase, wawancara, dan menulis berita atau feature yang bagus dan akurat, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika Anda tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa disebut tidak profesional.

Tapi, profesional saja tidaklah cukup. Anda mesti mengenal apa yang disebut ”integritas,” kejujuran, dalam pengertian bahwa sebagai wartawan Anda mesti jujur (dan paham) terhadap profesi, menyadari jatidiri Anda sebagai kepanjangan tangan dari aspirasi publik, kepada siapa Anda semestinya bertanggungjawab secara moral. Profesional dan punya integritas belum lengkap jika Anda tidak memiliki sikap independen, sebagai bagian yang integral dari ”trilogi jurnalisme,” yaitu profesional, integritas dan independen, tidak berpihak, obyektif, dan hanya berpihak atau bertanggung jawab kepada publik.

Karena bertanggung jawab kepada publik, dan oleh karena itu harus independen, maka jadilah pers – dan dengan demikian juga wartawan – merupakan the fourth estate (pilar ke empat) dalam negara yang menganut sistem demokrasi -- di samping eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika pilar demokrasi ciptaan Jean Jacques Rousseau yang disebut ”trias politica” itu saling mengontrol satu sama lain, sehingga terjadi check and balance, maka pers sebagai pilar ke empat berperan sebagai ”anjing penjaga” (watch dog) agar check and balance dalam sistem demokrasi itu berjalan dengan semestinya.

Dalam konteks Indonesia, Anda harus memahami UU Nomor 40/1999 tentang Pers yang melindungi tugas wartawan sebagai profesi dan menjamin kebebasan pers. Namun harap diingat, dan jangan salah paham, bahwa kebebasan pers sesungguhnya bukanlah semata-mata merupakan kepentingan pers. Sebab, kebebasan pers (freedom of the press atau press freedom) merupakan konsekwensi logis dari sistem demokrasi, ketika pers menjadi watch dog dalam rangka perannya sebagai the fourth estate.

Pengertian ”kebebasan pers” tentu saja bukanlah bebas sebebas-bebasnya, menulis semau gue, tak peduli pada aturan apapun, melainkan bebas dalam mengakses informasi yang dibutuhkan oleh publik. Sebab, pers sebagai ”pilar ke empat” dalam sistem demokrasi -- yang adalah juga ”kepanjangan tangan” dari aspirasi publik -- harus bebas dalam mengakses informasi publik. Mengapa? Sebab, kebebasan itu merupakan salah satu dari hak-hak sipil (hak untuk bebas berpikir, berpendapat, berbicara, menulis, berserikat, beragama, mencari nafkah) yang semuanya merupakan hak-hak manusia yang paling asasi.

Dengan mengemban hak untuk mengakses informasi publik secara bebas, dan dengan demikian sebagai ”kepanjangan tangan publik” atau ”penyambung lidah rakyat”, maka pers berkewajiban memperjuangkan hak-hak sipil, terutama the silence majority. Dengan melaksanakan tugas profesional sebagai social control, pers dapat menjaga agar kekuasaan tetap berjalan di jalur rel demokrasi, tidak terjebak pada penyalah gunaan kekuasaan. Sebab, sebagaimana ungkapan sejarawan Inggris Lord Acton (1834-1902), ”the power tends to corrupt; the absolute power tends to absolute corrupt” (kekuasaan cenderung menyalah gunakan kekuasaan; kekuasaan yang mutlak cenderung menyalah gunakan kekuasaan secara mutlak pula).

Oleh karena itu, pers harus bebas namun bertanggung jawab (kepada publik, kepada norma hukum, kepada common sense, bukan kepada kekuasaan). Namun, di lain pihak pers bukanlah can do no wrong (bukan tidak bisa salah). Sebab, jika pers can do no wong, bukan tak mungkin akan terjadi trial by the press (pengadilan sepihak oleh pers), bahkan tirani pers. Dalam kaitan ini, sangatlah benar sikap Thomas Jefferson, Presiden ke III Amerika Serikat (1743-1826): “Andai saya diminta memilih antara pemerintah tanpa pers atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua.” Padahal, selama memerintah dia sering diperlakukan kurang baik oleh pers AS.

***

--------------------------------------------

Wednesday, May 21, 2008

WARTAWAN: IDEALIS atau "BODREX"?

Oleh Budiman S. Hartoyo


LEBIH dari 30 tahun saya jadi wartawan. Meski hingga kini hidup tetap saja pas-pasan, saya punya kebanggaan tersendiri. Di tahun 1963, ketika tabloid belum mewabah seperti sekarang, ketika orang pers belum berpikir tentang community paper, saya sudah magang di sebuah penerbitan lokal di Solo, Jawa Tengah, yang namanya mengambil “nama alias” tempat tabloid mingguan itu diterbitkan: Surakarta. Saya belajar kepada (alm) Nurman Sahli, pemimpin redaksinya, dan (alm) Achmad Ds, wartawan seniornya. Ketika itu, di kalangan para wartawan Jawa Tengah ada anggapan bahwa mereka adalah “orang-orang PSI” hanya karena keduanya mengaku sebagai “murid” dan respek kepada Haji Wa’ang alias Rosihan Anwar, pemimpin redaksi harian Pedoman dan “guru” banyak wartawan itu.


Antara lain berkat Achmad Ds pula saya mengenal para sastrawan di Solo seperti Armaya, Ds Mulyanto, Mansur Samin, Elanda Rosi Ds. Tak heran jika di tahun 1971, ketika TEMPO diterbitkan oleh penyair Goenawan Mohamad, serta-merta saya pun “tersedot” sampai akhirnya saya pensiun – setahun sebelum majalah berita mingguan tempat saya banyak ngangsu ngelmu itu dibreidel pada tahun 1994 oleh Menteri Penerangan Harmoko, wartawan yang “tersesat” jadi politikus itu.


Tapi, kebanggaan sebagai wartawan itu kadang terasa pahit. Bukan karena usia sudah 60 tahun, dan sepertinya tak laku bekerja di media massa yang kini rata-rata didominasi para wartawan muda yang post graduate, tapi lantaran ada ganjalan yang sejak dulu sudah sering saya rasakan. Betapa tidak. Sampai kini, ketika kebebasan pers yang sejak lama kita impikan itu terwujud, masih saja ada anggapan bahwa pers, khususnya wartawan, identik dengan “amplop” sehingga ada julukan tak resmi: “wartawan amplop”.


Yang dimaksud tentu amplop yang biasa digunakan untuk memberi uang kepada seseorang dengan cara halus, sopan, agar tak menyinggung perasaan. Lama-kelamaan, karena sudah terbiasa atau “membudaya”, konotasi “amplop” tidak lagi berkaitan dengan sopan-tak-sopan, melainkan identik dengan sogok-menyogok. Bahkan bagi sebagian (kecil) wartawan yang sudah (maaf) “berbudaya amplop”, kalau mereka tidak menerima (atau bahkan meminta) amplop perasaan mereka konon kabarnya malah tersinggung. Wah, kok sudah terbolak-balik jadinya.


Maka dengarlah keluhan Kabag Humas Dinas Tata Pemakaman DKI Jakarta, Eddy Supriatna, yang hampir setiap hari menghadapi orang-orang yang mengaku sebagai wartawan. Mereka tidak memburu berita tapi meminta uang, bahkan ada di antaranya yang mengancam. “Sepanjang hari kerja mereka hanya menganggu. Bahkan setelah beberapa hari dicek, tidak satu pun masalah yang ditanyakan itu dimuat di suratkabar. Korannya saja tak ada di pasaran,” keluh Edy kepada Media Indonesia (19/6/2000).


Di Bekasi lain lagi ceritanya. Tiga kaca pintu gedung Pengadilan Negeri Bekasi pecah menyusul kekisruhan dalam pembayaran pesangon bagi pekerja PT Kong Tai Indonesia yang terkena PHK, Sabtu 10/6. Kekisruhan tersebut bermula dari adanya oknum wartawan yang meminta “jatah” dari petugas bendahara (Pikiran Rakyat, 12/6/2000). Sebelumnya, 8/6/2000, koran terbitan Bandung itu menulis, oknum-oknum wartawan itu minta “jatah transpor dan uang makan” sebanyak Rp 7,5 juta kepada Mel Murad, Bendahara Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit (SPTSK), Rp 2,5 juta di antaranya diterima oleh Aidil Y. Matondang, Ketua PWI Perwakilan Bekasi. Maksudnya PWI-Orde Baru, bukan PWI-Reformasi, karena PWI-Reformasi justru berusaha mendidik wartawan agar menjauhi “amplop”.


Masih banyak cerita lain mengenai “wartawan bodrex” – meskipun saya tak tahu persis mengapa wartawan gadungan itu mendapat julukan “bodrex”. Yang pasti mereka bukan anggota “Pasukan Bodrex” berseragam merah pimpinan artis dan judoka Dede Yusuf yang suka nampang di layar kaca itu. Tapi, mereka memang ada yang punya “pasukan” sebagaimana pernah diberitakan oleh Media Indonesia edisi Minggu (MIM) beberapa waktu lalu. Mereka biasa bergerombol di Bursa Efek Jakarta atau Jakarta Design Center – meski tentu banyak pula wartawan profesional di kedua tempat tersebut. Menurut MIM, ketika satu atau dua anggota “pasukan bodrex” itu berhasil melakukan “wawancara” (baca: minta duit) kepada seorang narasumber, kontan menghamburlah “pasukan” itu ikut pula “wawancara”.


Harian Kompas pernah pula memberitakan betapa si “bodrex” tertangkap basah minta “uang transpor” kepada salah seorang gubernur yang tengah mengikuti Rapat Kerja Gubernur di Departemen Dalam Negeri. Bahkan DetikCom suatu kali menayangkan berita mengenai “seorang wartawan” yang minta jatah “uang makan” kepada seorang anggota DPRD Jawa Timur di Surabaya, kemudian diusir oleh para wartawan beneran. Selidik punya selidik, oknum-oknum yang mencemarkan nama baik korps wartawan itu rata-rata memang WTS alias “wartawan tanpa suratkabar” atau “pengacara” – pengangguran cari-cari acara.


Ketika masih (beruntung) tercatat sebagai wartawan TEMPO, dengan penuh percaya diri saya bertekad menjadi wartawan profesional, independen dengan integritas moral yang tinggi. Artinya, emoh amplop. Tentu saja, sebab ketika itu gaji saya cukup besar, dengan fasilitas dan berbagai tunjangan serta bonus. Tapi, sekarang, ketika saya sempat bertemu dengan kawan-kawan di sebagian wilayah tanah air, saya pun mengelus dada. Gaji kawan-kawan wartawan yang tinggal di daerah – tapi juga sebagian wartawan yang bekeja di Jakarta – rata-rata sangatlah kecil. Ada yang hanya Rp 250.000, bahkan ada pula yang cuma Rp 80.000.


Nah, lantas bagaimana kita mendidik wartawan agar mereka menolak “amplop”? Pendidik pers seperti Ashadi Siregar bisa saja bicara soal filosofi “panggilan hidup” dan “panggilan perut”, sementara tokoh Dewan Pers seperti Jakob Oetama boleh bicara mengenai idealisme pers ketika mereka berbicara dalam seminar mengenai Etika Jurnalistik di Jakarta yang digelar Yayasan Jurnalis Independen belum lama ini. Tapi, pernahkah terpikir oleh kita, sudah lama ada (sebagian) majikan pers yang mengupah wartawan dengan uang segobang sembari bilang: “Carilah tambahannya di luar kantor”?


Seorang wartawan muda di Medan, yang idealismenya membara, bercerita kepada saya: ada kebiasaan wartawan menyetor sebagian “amplop” kepada redaksi agar berita mereka mendapat jatah kapling di halaman tertentu. Buntut cerita itu ternyata bukan happy ending: ada (sebagian) redaktur – yang gajinya agak lebih besar – ikut pula turun ke lapangan. Buat apa, kan tugasnya di desk? Ikut berebut jatah “amplop”, dong. Artinya, masalah “amplop” tidak hanya berkait dengan faktor kemiskinan kantung wartawan, tapi juga berkelindan dengan moral yang memang bobrok.


Di era reformasi yang membuahkan kebebasan pers – ketika pers yang sejak Orde Baru jadi “pers industri” dan kini jadi komoditi yang latah, karena setiap orang bisa menerbitkan koran tanpa izin – fenomena “amplop” itu semakin mewabah. Dengan modal dengkul pun, orang bisa jadi majikan pers. Kebutuhan akan SDM yang mendesak mendorong rekrutmen wartawan yang “asal comot” tanpa in-house training. Bahkan Rosihan Anwar pun beberapa waktu lalu mengeluh di Kompas bahwa pendidikan yang selama ini ia lakukan di KLW (Kursus Latihan Wartawan), gagal. Berapa prosen pula dari puluhan ribu wartawan yang berhasil dididik oleh lembaga pendidikan yang bagus seperti LP3ES, LP3Y, LPDS, ISAI?


Selama ini (sebagian) majikan pers yang tergabung dalam Serikat Perusahaan Pers (SPS) sudah menikmati kemudahan karena pers dianggap sebagai “sarana mencerdaskan bangsa”. Mulai dari keringanan pajak impor kertas, keringanan biaya transpor pengiriman koran, ditambah penerimaan iklan. Namun, (sebagian) mereka tega memerah keringat wartawan dan alergi terhadap upaya pembentukan Dewan/Serikat Karyawan, sementara wartawan tak menyadari hak-hak mereka sebagai “kelas” pekerja alias buruh. Tak berani menggalang solidaritas, apalagi mogok, jika suatu saat hak mereka terabaikan. Apa boleh buat, karena sejak semula mereka bekerja tanpa perlindungan KKB (Kesepakatan Kerja Bersama), tak ada ketentuan standar penggajian, apalagi asuransi.


Kecilnya gaji seharusnya tak menghalalkan wartawan menggadaikan harga diri untuk menerima apalagi meminta “amplop”. Namun repotnya, di satu sisi wartawan adalah buruh tapi di lain pihak orang bilang mereka profesional dan idealis. Idealnya, ia adalah agent of modernization, agent of social change, pejuang kebenaran, keadilan dan pembela rakyat kecil yang tertindas. Wartawan seharusnya memiliki wawasan luas dengan banyak membaca dan berdiskusi. Itu memang hanya bisa berarti slogan atau harapan kosong belaka. Tapi, apa yang bisa kita kerjakan dan idealkan jika hidup ini tanpa setitik harapan pun?


Memang tak mudah mengatakan, “jangan jadi wartawan kalau gaji kecil lalu menerima amplop”. Tak semudah itu. Salah satu jalan keluar – yang juga tak gampang disosialisasikan – misalnya mendorong keluarga wartawan membuka usaha sebagai agen koran. Sudah merupakan rahasia umum, bahwa penghasilan agen koran justru lebih besar ketimbang gaji wartawan. Atau membentuk Dewan/Serikat Karyawan sehingga bargaining position mereka cukup kuat untuk memperjuangkan hak-hak sebagai pekerja. Justru di masa serba terbuka seperti sekarang segala sesuatu bisa dilakukan. Kinilah saatnya para wartawan peduli akan nasib mereka sendiri, saling menempa profesionalisme dan karakter sebagai insan idealis, menggalang solidaritas untuk membela hak-hak sebagai pekerja!

***

Saturday, January 05, 2008

DENDAM BENAZIR DAN "DENDAM" TAMARA

Dua tanda kutip pada sebuah kata, rasa bahasa yang sering kurang dipertimbangkan.


BIARPUN sama-sama memendam dendam, perasaan Benazir Bhutto dan Tamara Geraldine tidaklah sama (Kompas, 16/9/2007). Benazir memang benar-benar memendam dendam terhadap lawan politiknya. Karena itu kata dendam seharusnya tidak ditulis di antara dua tanda kutip (halaman 5). Sebab, jika kata dendam diberi dua tanda kutip, berarti bukan dendam yang sesungguhnya. Sementara dendam Tamara terhadap acara Wisata Kuliner – karena tak bisa mencicipi jenis makanan tertentu gara-gara menderita sakit maag (halaman 32) – hanyalah kiasan. Setelah sembuh, ia melampiaskan "dendam" dengan menemani Bondan Winarno, pengasuh acara tersebut. Maka tepatlah jika dendam ditulis di antara dua tanda kutip.


Selama ini pembubuhan tanda baca berupa dua tanda kutip di depan dan belakang sebuah kata, hampir tak pernah dibicarakan. Padahal, penggunaan tanda baca itu – yang dimaksudkan untuk memberi arti atau tekanan tertentu pada sebuah kata – sering muncul, terutama dalam bahasa pers, bahkan juga dalam bahasa lisan. Ketika seseorang sedang berbicara di televisi dan hendak menyebut sebuah istilah yang mengandung arti tertentu, serta merta ia mengangkat kedua belah tangannya lalu memeragakan cara menulis dua tanda kutip itu dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah.


Selain dimaksudkan sebagai kiasan, atau memberi tekanan pada arti lain dari arti yang sebenarnya, tanda baca seperti itu juga digunakan untuk menyebut julukan yang khas, atau istilah tertentu. Tapi, tidak semua penulis, terutama para wartawan, dapat menggunakannya secara tepat. Menulis kalimat dengan suatu "rasa bahasa" sehingga memunculkan asosiasi tertentu, memang tidak mudah.


Dalam kolom Ramadan (Koran Tempo, 16/9/2007, halaman 2), yang mengulas suasana bulan Ramadhan, ada tiga kesalahan dalam menulis kata di antara dua tanda kutip: "sweeping" terhadap minuman keras; kemaksiatan harus "diperangi"; melanggar "peraturan daerah." Jika yang dimaksud dengan ketiga kata tersebut memang benar-benar sebagaimana yang terkandung di dalam artinya, mengapa harus ditulis di antara dua tanda kutip? Jika dibubuhi dua tanda kutip, maka asosiasi yang muncul dari kata atau istilah tersebut justru kebalikan dari arti yang sebenarnya.


Sebaliknya, dalam kolom yang sama terdapat dua kata yang memunculkan asosiasi yang benar ketika penulisnya meletakkan dua tanda kutip pada sebuah kata atau ungkapan: hiburan malam harus "tahu diri"; anak-anak di pengungsian kelaparan menunggu kapan "magrib" tiba. Tepatlah ungkapan tahu diri ditulis di antara dua tanda kutip, sebab si penulis mempersonifikasikan subyek kalimat, yakni hiburan malam. Begitu pula dengan kata magrib yang oleh penulisnya dimaksudkan sebagai kiasan bagi terpenuhinya kesejahteraan bagi para pengungsi.


Gara-gara kurang mempertimbangkan "rasa bahasa" itulah, seorag penulis sering tidak konsisten dalam menggunakan dua tanda kutip itu. Dalam Pertaruhan Terakhir (TEMPO, 26/8/2007, halaman 23) ada dua kalimat yang menunjukkan kurangnya konsistensi tersebut. Setelah kematian Munir, Indra juga pernah bertemu petinggi BIN untuik membicarakan "langkah selanjutnya" (kolom 1). Ungkatan langkah selanjutnya tepat diletakkan di antara dua tanda kutip untuk menunjukkan adanya kongkalingkong antara Indra dan petinggi BIN.


Tapi, dalam kolom 2 terdapat dua kata yang seharusnya tidak perlu dibubuhi dua tanda kutip: Maksudnya, kejaksaan menguraikan aspek "sebab" untuk menjelaskan unsur "akibat", yakni tewasnya Munir. Jika yang dimaksud memang arti sebenarnya dari kata sebab dan akibat, mengapa kedua kata tersebut harus diletakkan di antara dua tanda kutip?


Kekurang cermatan juga terdapat dalam Operasi Permak Wajah (TEMPO, 9/9/2007, halaman 23). Saya kutip sebuah kalimat panjang pada kolom 1-2: Akhirnya, rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menggunakan dana milik Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia/Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia – disingkat LPPI – yang merupakan "anak usaha" BI. Jika jelas bahwa LPPI adalah anak usaha BI, seharusnya dua kata itu tidak usah ditulis di antara dua tanda kutip. Kecuali jika pada alinea sebelumnya disebutkan adanya keraguan mengenai status LPPI.


Namun pada kolom 1 terdapat cara penulisan yang benar. Saya kutip: Apalagi setahun kemudian BI hanya berhasil meraih predikat "wajar dengan pengecualian". Tiga kata wajar dengan pengecualian merupakan predikat yang dikenakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Bank Indonesia. Sebagai predikat, wajar jika tiga kata tersebut ditulis di antara dua tanda kutip.


Goenawan Mohamad termasuk penulis (sangat) produktif yang suka (dan tepat) menggunakan tanda baca berupa dua tanda kutip – yang seringkali dimaksudkan untuk memberi tekanan pada pengertian yang sama sekali lain. Misalnya, dalam Catatan Pinggir berjudul Ong (TEMPO, 9/9/2007, halaman 130). Mengapa ia menulis Onghokham sebagai "sejarawan" (di antara dua tanda kutip), padahal almarhum memang seorang sejarawan? Sebab, ada penjelasan pada kalimat berikutnya, yakni Ia sendiri punya versi lain tentang dirinya. Dan selanjutnya, Seperti Sartono Kartodirdjo, ia mengutamakan latar belakang sosial-ekomomi sebuah peristiwa, yang menyebabkan sejarah baginya bukan kisah orang "atas."


Maksudnya, bukan "sejarah" sebagaimana kita kenal di bangku sekolah yang mengisahkan orang "atas" alias para raja, pahlawan, pemimpin, melainkan peristiwa yang kompleks, lengkap dengan latar belakang politik, sosial, budaya dan ekonomi yang saling kait-mengait.

Tuesday, December 18, 2007

KETIKA JUSUF KALLA "BERBESAR HATI"


Ada wartawan yang tidak kritis: langsung mengutip ucapan pejabat, padahal salah.

SAYA tersenyum kecut karena jengkel, sembari geleng-geleng kepala lalu mencampakkan koran, ketika membaca Harian Kompas dan Koran TEMPO edisi 3 November 2007. Di halaman 1 Kompas menulis sebaris judul mencolok: Wapres Minta Nurdin Halid Besar Hati soal Putusan FIFA.

Padahal, di halaman 31, Kompas mengutip ucapan Ketua Komite Olahraga Nasional, Rita Subowo, yang “meminta kebesaran jiwa para pengurus PSSI,” dan ucapan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adyaksa Dault, bahwa “Nurdin Halid harus berjiwa besar.”


Sementara Koran TEMPO di halaman A3 juga mengutip ucapan Jusuf Kalla, “Saya yakin Nurdin Halid akan berbesar hati untuk mengikuti ketentuan-ketentuan itu.” Berbesar hati atau berbesar jiwa?

Ucapan Jusuf Kalla yang salah itu, besar hati, dikutip seperti apa adanya oleh wartawan Kompas (INU/JOY) dan wartawan Koran TEMPO (Rafly Wibowo/Sutarto/Fanny Febiana). Repotnya, redaktur kedua koran itu juga tidak kritis.

Padahal, yang benar ialah besar jiwa (lapang dada, legowo), bukan besar hati (gembira, girang, senang). Sudah sebulan lebih ucapan itu disiarkan, tapi tidak diralat oleh jurubicara kepresidenan, juga tidak oleh redaktur koran yang bersangkutan.

Kesalahan sama dilakukan oleh sutradara dan bintang film Rano Karno ketika mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Selembar poster ditempel pada salah satu mobilnya, Sekali-kali jadi Wakil Gubernur.... Yang benar ialah sekali-sekali (sewaktu-waktu), bukan sekali-kali (sama sekali tidak).

Itu adalah salah kaprah dalam berbahasa. Salah kaprah (ungkapan dalam bahasa Jawa) ialah kesalahan yang biasa dilakukan, tapi telanjur dianggap benar. Celakanya, baik orang awam maupun pejabat, bahkan juga pers, sering kejangkitan penyakit salah kaprah dalam berbahasa.

Misalnya, kalimat ini: Redaktur menugaskan reporter meliput pertandingan olahraga (salah kaprah). Yang benar, Redaktur menugasi reporter (untuk) meliput pertandingan olahraga. Atau, redaktur menugaskan peliputan pertandingan olahraga kepada reporter (tapi kurang lazim).

Yang agak rumit ialah memenangkan dan memenangi dalam kalimat berikut: PSSI memenangkan pertandingan sepakbola (salah kaprah). Siapa yang menang? Yang menang ialah “pertandingan sepakbola”, bukan PSSI. Tapi, kalimat PSSI memenangi pertandingan sepakbola -- benar, tapi terlalu dipaksakan. Menurut hemat saya, lebih baik PSSI menang (unggul) dalam pertandingan sepakbola.

Kasus yang hampir sama terjadi pada kata membawahi dan membawahkan. Yang benar, Presiden membawahkan para menteri, bukan Presiden membawahi para menteri (salah kaprah). Sebab, Presiden membawahi para menteri, berarti presiden memposisikan diri (berada) di bawah menteri.

Bandingkan membawahi dan melayani. Kalimat Presiden melayani para menteri, tidak logis, sebab menteri adalah pembantu atau bawahan presiden. Tapi, Presiden mengatasi persoalan (benar), bukan mengataskan (tidak lazim).

Ada ketentuan tatabahasa yang dalam penggunaannya mengalami salah kaprah. Ketentuan itu: semua kata dasar yang berhuruf awal k, p, t, dan s, jika mendapat awalan me atau pe dan akhiran kan atau an, maka huruf awal itu harus luluh. Tapi, dalam praktik keempat huruf itu tidak luluh.


Pertama, kata kaji; mestinya mengaji, pengajian. Tapi, dalam praktik, mengkaji, pengkajian, kecuali jika pengertiannya mengaji atau pengajian Al-Quran. Padahal, mempelajari teknologi mestinya juga termasuk pengajian, bukan pengkajian. Apa salahnya kita menggunakan mengaji atau pengajian teknologi?

Kedua, kata pesona mestinya memesona, tapi salah kaprah menjadi mempesona. Atau kata perkara seharusnya memerkarakan, tapi salah kaprah menjadi memperkarakan. Kata jadian untuk peduli seharusnya memedulikan, tapi salah kaprah menjadi mempedulikan. Anehnya, kata jadian putus bukan memputuskan melainkan memutuskan. Adapun mempunyai, benar, sebab kata dasarnya bukan punya, tapi empunya.

Ketiga, kata tunduk dan tambah, kata jadiannya menundukkan dan menambahkan, sesuai dengan ketentuan, yakni huruf pertama luluh, tidak mengalami salah kaprah.

Keempat, kata sukses mestinya menjadi menyukseskan, tapi salah kaprah menjadi mensukseskan. Bahkan ada yang membacanya mengacu pada kata success dalam bahasa Inggris: mensakseskan. Sebaliknya, kata sabar yang kata jadiannya menyabarkan (benar). Jika mengacu pada mensukseskan, mengapa kata jadian sabar bukan mensabarkan?

Yang menarik ialah tiga kata dasar yang terdiri dari satu suku kata, seperti sah, cat dan cap. Jika ketiga kata itu mendapat awalan me atau pe dan atau akhiran an atau kan, maka kata jadiannya menjadi mengesahkan, mengecat, mengecap, karena mendapat sisipan huruf sengau ng. Selama ini masyarakat kita sudah menggunakan kata jadian tersebut.

Baik. Tapi, jika kita analisa, kata dasar ketiga kata itu hilang atau berubah, bahkan aneh. Lihatlah: pengesahan (pe-ng-esah-an), kata dasar yang seharusnya sah berubah menjadi esah, atau kesah. Begitu pula pengecapan (pe-ng-ecap-an), kata dasar yang seharusnya cap menjadi ecap, atau kecap. Dan pengecatan (pe-ng-ecat-an), kata dasar yang mestinya cat menjadi ecat, atau kecat.

Aneh bin ajaib.

Budiman S. Hartoyo

Tuesday, December 11, 2007

LAPORAN SAMPAH, LAPORAN BASAH; LAPORAN KERING, LAPORAN BERDAGING


Oleh Budiman S. Hartoyo *)



SETIAP akhir pekan, para wartawan TEMPO dilanda stres. Bahan berjibun, deadline pun mengancam di pucuk ubun-ubun. Nasi dan lauk pauk beraneka selera untuk makan malam yang terhidang di pinggir ruang redaksi, dan dingin AC yang menggigit, tak mampu mengusir rasa gelisah. Kantuk adalah musuh nomor satu, begadang bukan lagi kebiasaan langka. Setiap akhir pekan, sebagian besar wartawan (dan redaktur) menginap di kantor, melemparkan tubuh barang sejenak di kolong meja. Begitu yang terekam dalam kenangan saya lebih dari seperempat abad silam.


Jangan ganggu Fikri Jufri. Ia tengah mengedit naskah, sebuah laporan ekonomi tentang skandal korupsi di perusahaan minyak milik negara, Pertamina. Tubuhnya yang tambun bisa terguncang setiap kali ia jengkel membaca laporan wartawan yang tak layak. “Setan! Ini laporan apa? Brengsek! Laporan sampah! Bull shit!” teriaknya menyumpah-nyumpah sembari bangkit dari kursi menuju toilet. Ia melepas hajat kecil, lalu merogoh saputangan dari kantung celana, menyergah ingus. Jam dinding yang bulat menunjuk angka 02:25 dinihari. Tegang! Tapi ah, peduli amat! Setiap orang toh sibuk dengan urusan masing-masing.


Jika ia gusar, naskah di tangan kanannya bisa dibanting. Atau sekedar dikibas-kibaskannya ke bibir meja. Dan sambil terus ngedumel, ia ngeloyor. “Hhh, hhh, hhh! Sialan!” ia bersungut-sungut. Hidung mancung Arab-nya kembang-kempis. Kepalanya mendongak sambil matanya yang berkacamata minus melirik sinis ke kiri-kanan. Tapi, tak selamanya redaktur senior itu mengumbar sumpah serapah. Ia justru lebih banyak bercanda sambil sesekali melontarkan joke diseling cas-cis-cus bahasa Inggeris. Jika hatinya lagi enak, nah, suasana kerja pun terasa ringan. Orang tergelak setiap kali ia ngeledek seorang kawan dengan jenaka.


“Hei, Bung! Ha, Emir David, how are you?” suaranya memecah kebekuan menyapa Amir Daud, redaktur senior yang sangat concern dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lalu, sambil menghampiri meja saya dia nyerocos dengan logat Betawi: “Nah, ini die nyang namenye laporan basah, bedaging. Ndak kering. Gampang kite ngejaitnye.” Sekilas tercium aroma bir meruap dari mulutnya. Esoknya, pada hari kedua deadline, hidungnya yang besar dan mancung itu masih saja mengancam wartawan yang laporannya “kering tak berdaging”. Tapi, orang-orang sudah melupakannya. Terutama setelah Susanto Pudjomartono, dengan gaya Jawa dan candanya, membujuknya. Ia memang lihay menengahi setiap muncul percik konflik kecil antar redaksi.


Tak jarang pula, suasana di ruang redaksi di lantai ketujuh sebuah gedung jangkung di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Pusat, itu lengang. Semua tenggelam dalam kerja. Atau lelap tertidur. Sesekali terdengar dengkur satu dua orang. Tak ada yang peduli. Kecuali jika suatu saat, ketika di tengah malam yang senyap itu, terdengar katepak-ketepik suara sepatu. Nah, ini dia: Isma Sawitri ngeloyor ke salah satu meja tempat hidangan malam. Tapi ia tak menyentuh nasi atau sayur asem. Biasanya hanya mengambil dua butir jeruk. Peletak-peletik, peletak peletik, memecah kesunyian malam.


Laporan sampah, laporan basah; laporan kering, laporan berdaging. Para wartawan yang pernah “hidup sekandang” dengan FJ ingat betul istilah-istilah khas itu keluar dari mulutnya. FJ adalah inisial untuk Fikri Jufri, sebagaimana GM untuk Goenawan Mohamad, SP untuk Susanto Pudjomartono, IS untuk Isma Sawitri, BHM untuk Bambang Harymurti, atau Bambu untuk Bambang Bujono – yang lebih dari seperempat abad silam diperkenalkan oleh Amir Daud alias AD – yang oleh FJ kadang diledek sebagai Emir David. Memang, hanya laporan basah atau berdaging yang mampu mempertahankan trade mark majalah TEMPO, sehingga “enak dibaca dan perlu.”


Saya tak tahu persis kapan redaktur TEMPO atau bagian iklan (dugaan saya malah GM sendiri!) menciptakan slogan yang singkat, padat, pas, dan kena, seperti “enak dibaca dan perlu” itu. Juga sejumlah slogan untuk pemasaran, seperti Jangan peluk dunia, baca TEMPO. Atau slogan bersayap lainnya untuk menggambarkan rubrik-rubrik TEMPO: “nasional tapi bukan politik; ilmu tapi bukan teknologi; kesehatan tapi bukan ilmu kedokteran; agama tapi bukan khotbah.” Yang paling populer: Tak semua berita perlu dibaca. TEMPO, enak dibaca dan perlu – yang dengan sangat tepat mengungkapkan gaya laporan TEMPO yang khas.


Mengapa “enak dibaca”? Karena laporan ditulis secara populer, menggambarkan suasana atau profil seseorang secara deskriptif, menceritakan kejadian secara bertutur, naratif, yang menurut FJ “harus dijahit secara cerdas” oleh redaktur, berdasarkan “belanjaan reporter” di lapangan. Mengapa “dan perlu”? Karena setiap usulan berita harus diseleksi terlebih dahulu, didiskusikan dalam rapat, sehingga benar-benar “layak TEMPO”. Sejak awal, ketika pertama kali TEMPO terbit pada 1971, salah satu teks iklan (yang saya yakin dirancang oleh GM) menggambarkan karakter laporan TEMPO, yaitu ramuan antara “ketrampilan jurnalisme dan kepiawaian sastra”.


Menurut saya, sejak TEMPO terbit itulah sesungguhnya pers Indonesia mengenal apa yang sekarang disebut sebagai “jurnalisme sastra”. Atau yang belakangan, pada tahun 200-an, ditabalkan oleh Jurnal Pantau sebagai “jurnalisme sastrawi”. Dua penamaan yang menurut saya kurang tepat, dibanding misalnya “jurnalisme literair”, mengacu pada literary journalism. Sebagai wartawan – yang sebagian terbesar “masa berguru”-nya sebagai reporter di TEMPO (1972-1995) – selama itu pula saya belum pernah membaca Hiroshima-nya John Hersey (The New Yorker, 31 Agustus 1946). Sebab, selama di TEMPO saya langsung menulis tanpa tengok kiri-kanan. Saya malah heran, belakangan ada yang bilang, gaya tulisan saya dan tulisan beberapa kawan yang lain – dinilai sebagai jurnalisme literair.


Sesunguhnya TEMPO sangat beruntung – atau memang dirancang oleh GM, yang “terpanggil” oleh sejarah sebagai pendiri TEMPO dan pelopor “jurnalisme baru” di Indonesia – karena di sana ada sejumlah sastrawan: Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, A. Bastari Asnin, Isma Sawitri, Putu Wijaya, Syu’bah Asa, Usamah, Martin Aleida, dan belakangan si kembar Noorca Marendra dan Yudhistira Massardi, serta Amarzan Lubis, yang nama aslinya Amarzan Ismail Hamid. Tapi, juga sangat terbantu berkat kerja keras para reporter andal seperti Fikri Jufri, Susanto Pudjomartono, Toeti Kakiailatoe, fotografer hebat Ed Zoelverdi, editor bahasa Slamet Djabarudi, dan jangan lupa guru para wartawan: Amir Daud.


Percaya atau tidak, selama sembilan tahun, TEMPO tak pernah menggelar in-house training bagi para wartawannya. Maka, ketika menerbitkan buku panduan buat para redaktur, Misalkan Anda Wartawan TEMPO (1979), dalam kata pengantarnya GM mengakui, bahwa para wartawan TEMPO generasi pertama “tak sedikit yang belum pernah bersintuhan dengan teori dasar jurnalistik sama sekali.” Bahkan ia berterus-terang, “Setelah beberapa belas tahun, baru setelah bekerja di TEMPO, saya merasa mulai dapat mengarang prosa sebagaimana mestinya”. Dan “prosa sebagaimana mestinya” itu menurut GM ialah prosa yang “tidak ruwet”.


Karena itu, tulis GM, perlu dirumuskan bagaimana terus menggosok rapi (teknik) penulisan di TEMPO. GM, yang ketika itu sudah terkenal sebagai penyair dan eseis, juga mengaku, “Prosa yang baik ternyata tidak mudah, dan selalu perlu diperbaiki terus-menerus. Para penulis, yang paling berpengalaman pun, selalu perlu diingatkan lagi kekurangan-kekurangannya”. Dari pengakuan GM itulah, tradisi jurnalisme literair dimulai di Indonesia – setidaknya, sekali lagi, menurut saya. Maksud saya, sekian tahun sebelum Jurnal Pantau terbit dan cenderung mengklaim sebagai “pelopor jurnalisme sastrawi”. Kala itu, saya memastikan bahwa GM sudah mengikuti perkembangan jurnalisme literair di Amerika.


Perlu dicatat, bahwa sekitar 10 tahun sebelum GM untuk pertama kalinya menerbitkan EKSPRES pada 1970, kemudian TEMPO pada 1971, jurnalisme literair baru mulai menggeliat di Amerika. Dua nama yang pertama kali boleh disebut, misalnya, Gay Talese dan Tom Wolfe. Dan belakangan muncul sejumlah penulis lain, termasuk yang paling saya gemari, John Hersey. Tapi, GM tak pernah bercerita kepada kami, setidaknya kepada saya, mengenai gaya menulis yang “basah dan berdaging” -- sebagaimana yang dimuat di Esquire, Atlantic, Harper’s, New York Magazine, Life, New York Herald Tribune, The New Yorker.


Yang pasti, sejak semula para redaktur TEMPO sudah menyajikan tulisan yang “basah dan berdaging”. Itu tak berarti bahwa mereka sudah mengerti apa itu jurnalisme literair. Sebab, baru pada 1979 mereka dikasih tahu bagaimana menulis yang baik, yang “layak TEMPO”, dalam sebuah buku kecil, Misalkan Anda Wartawan TEMPO – yang 17 tahun kemudian berganti judul menjadi Seandainya Saya Wartawan TEMPO. Nah, bagi para wartawan yang mau belajar menulis dengan gaya jurnalisme literair, wajib hukumnya membaca buku Seandainya Saya Wartawan TEMPO saduran (alm) Slamet Djabarudi dari buku Feature Writing for the Newspapers, dan sepintas lalu boleh juga membuka-buka buku Jurnalisme Sastra karya Septiawan Santana Kurnia (Gramedia, Jakarta, 2002).


Oleh karena itu, jika kini ada orang bilang bahwa jurnalisme literair merupakan trend baru dalam pers Indonesia, sungguh saya tidak setuju! Bahkan saya berani bilang, bahwa sesungguhnya tak terlalu tepat jika Gay Talese, Tom Wolf, dan konco-konconya, disebut sebagai pelopor jurnalisme literair. Sebab, 10 tahun sebelumnya, pada 1953, tiga serangkai wartawan pendekar, yaitu S. Tasrif, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar, sudah menulis jurnalisme literair dan dibukukan dalam sebuah buku Ke Barat dari Rumah, Tiga Laporan Perjalanan Jurnalistik.


Bahkan jauh sebelumnya, 1926-1927, salah seorang perintis pers nasional Adi Negoro, sudah menulis laporan dengan gaya jurnalisme literair di majalah Pandji Poestaka, yang kemudian diterbitkan oleh Balai Poestaka (1939, tiga jilid), tapi baru dikoleksi oleh HB Jassin pada 1945. Ketika mewawancarai K.H. Abu Bakar Ba’asyir dan mereportase Pondok Pesantren Ngruki (Solo) untuk Jurnal Pantau (Mei 2000), saya menemukan sebuah buku di pasar buku loak di belakang Taman Sriwedari, Solo. Buku dalam bahasa dan huruf Jawa yang diterbitkan oleh Balai Poestaka (1921), yang ketika itu masih bernama De Commissie voor de Volkslectuur, lebih dari 600 halaman.


Buku yang kemudian saya beli seharga Rp 300 ribu itu berjudul Lampahipoen Kangdjeng Pangeran Arja Koesoemadiningrat Ngideri Bhoewana (Perjalanan KPA Koesoemadiningrat Mengelilingi Dunia). Semula saya menduga, buku itu merupakan laporan perjalanan jurnalistik kedua setelah laporan R.M. Sosrokartono (yang punya nama samaran “Mandor Kloengsoe”) untuk koran New York Time. Ketika itu, kakak kandung R.A. Kartini tersebut meliput berkecamuknya Perang Dunia I di Eropa (1914-1918). Tapi, karena ternyata Sosrokartono kemudian lebih menekuni dunia kebatinan ketimbang jusnalisme, ia pun tak menulis laporan perjalanan jurnalistik. Lain halnya dengan Pangeran Koesoemadiningrat. Meskipun ia bukan jurnalis, catatan perjalanannya niscaya merupakan laporan perjalanan (keliling dunia!), yang pertama kali disusun oleh orang Indonesia.


Laporan jurnalistik yang ditulis dengan gaya sastra seperti itulah yang saya maksud dengan jurnalisme literair. Tapi, itu tak berarti tulisan tersebut lantas bisa bernilai sebagai hasil sastra. Sebab, jurnalisme literair tetaplah karya jurnalisme, hanya cara atau gaya menulisnya “agak mendekati” gaya penulisan yang literair. Lebih dari itu, jurnalisme literair lebih mengutamakan deskripsi, penggambaran segala sesuatu secara detil, ditulis dengan konfirmasi yang seimbang. Sebagai contoh, tak usahlah jauh-jauh mencari sampai ke Amerika. Jurnalisme literair karya wartawan Indonesia cukup banyak. Bahkan, tak usah menengok ke belakang terlalu jauh sampai ke masa Perang Dunia I. Karya jurnalisme literair para wartawan Indonesia di tahun-tahun mutakhir juga cukup banyak. Misalnya, Dari Gunung ke Gunung (1950-an) oleh A. Damhoeri, laporan tentang suka duka para pemimpin dan pendukung PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di Sumatera Barat.


Mau yang lain? Sebutlah: Revolusi di Nusa Damai (1982) oleh Ktut Tanri, otobiografi saksi mata revolusi kemerdekaan; Kuantar ke Gerbang (1981), biografi Ibu Inggit Garnasih, dan Gelombang Hidupku (1982), biografi Dewi Dja, keduanya oleh Ramadhan KH; Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya (1984) oleh Umar Kayam, reportase tentang kesenian tradisional di berbagai daerah; Selamat Tinggal Hindia (1993) oleh Pans Schomper, otobiografi anak Belanda di sekitar runtuhnya Hindia Belanda. Juga karya-karya Rosihan Anwar seperti Kisah-Kisah Jakarta setelah Proklamasi (1977); Kisah-Kisah Jakarta Menjelang Clash ke-I (1979); Musim Berganti (1985); Perkisahan Nusa (1986).


Adapun buku Jurnalisme Sastra karya Septiawan Kurnia bagus sebagai referensi, atau sebagai pelengkap bagi para pembaca buku Seandainya Saya Wartawan TEMPO. Namun, buku yang dikemas apik oleh Penerbit Gramedia itu bukan tanpa cacat. Selain melupakan jejak sejarah jurnalisme literair di Indonesia, Septiawan juga keliru ketika menyebutkan nama penulis puisi tentang Nyi Eroh, wanita petani di Pasirkadu, Ciamis, Jawa Barat, yang berhasil membuat saluran air dengan memangkas bukit, dan akhirnya mendapat anugerah Kalpataru (TEMPO, 16 Juli 1988). Menurut Septiawan, puisi tersebut “laporan Isma Sawitri” (halm.180), padahal itu adalah puisi yang saya tulis berdasarkan laporan wartawan TEMPO Biro Bandung, Aji Abdul Gofar.


Kekurangan lain buku susunan dosen Unisba Bandung itu: hampir tak ada contoh karya jurnalisme literarir dalam pers di Indonesia masa kini. Padahal beberapa tulisan di Jurnal Pantau bisa dijadikan contoh. Begitu pula beberapa laporan TEMPO, terutama edisi lama. Meski tanpa deskripsi yang penuh warna atau basah, tulisan GM tentang meninggalnya Jack Lesmana (TEMPO, 23 Juli 1988), sangat bagus. Begitu pula tulisan tentang Titiek Puspa (TEMPO, 12 Nopember 1977). GM bahkan merekomendasi tulisan Jim Supangkat, sebuah resensi pameran lukisan, sebagai tulisan yang layak dicontoh, dan karena itu dibingkai dan dipajang di ruang kerja redaksi.


Bacalah pula misalnya beberapa tulisan dalam rubrik Tamu Kita di majalah TEMPO. Misalnya, tulisan mengenai Goesti Poetri Mangkoenagoro VIII (TEMPO, 17 Mei 1975): Di Pracimosono, tiada suara pagi itu. Hening seperti biasa. Dari ruang khusus untuk menerima tamu pribadi itu hanya terdengar cericit burung. Lewat taman yang terpelihara apik di tengah balairung, cahaya matahari yang lunak menimpa sepertiga bagian permadani tebal yang terhampar di lantai berbunga....


Salah satu ciri jurnalisme literair ialah reportase yang deskriptif, penuturan yang naratif, penggambaran profil yang lengkap dan detil. Pendeknya, kemampuan reporter melukiskan suasana di sekitar tokoh atau suatu kejadian sebagai pendukung tulisan. Tapi, deskripsi tidak selamanya harus berupa kalimat, apalagi yang berpanjang-panjang. Seorang penulis yang baik ialah yang menguasai dan mencintai bahasa, sehingga ia mampu menggunakannya sebagai alat pengungkap ekspresi yang pas dan penuh warna.


Masih sekitar tulisan tentang Irma Hardisurya, Ratu Indonesia 1975, di rubrik Tamu Kita, yang menarik ialah lead-nya yang dimulai hanya dengan satu kata: Pagi. Lalu diikuti kalimat pendek yang hanya terdiri dari empat kata saja: Matahari Bandung baru sepenggalah. Perhatikan, betapa penulisnya berusaha melukiskan suasana ketika ia sedang melakukan wawancara. Dan cukup dengan satu kata: Pagi. Perhatikan pula betapa ia – sebagaimana generasi lama TEMPO yang lain – berusaha menggunakan ungkapan lama yang ketika itu sudah sangat jarang digunakan: sepenggalah.


TEMPO memang berjasa menghidupkan kembali kosakata lama. GM mempopulerkan ujar, Bur Rasuanto memperkenalkan kosakata dari kampung halamannya, Palembang, santai. Putu Wijaya gemar menggunakan kata-kata yang sangat ekspresif, menggebrak, menggojlok, menonjok, menggebu; sedangkan Ed Zoelverdi, fotografer yang suka menulis dengan gaya yang sangat lucu itu, gemar menggunakan kosakata jenaka seperti kudu, melejit, nungging, dan ending sebuah cerita yang juga terdiri dari satu kata, diambil dari dialek bahasa lisan Betawi: Begitu. Kecintaan kepada bahasa, kegemaran berinovasi, dan kemampuan menggunakannya secara kreatif imajinatif, merupakan salah satu kekuatan jurnalisme literair.


Celakanya, kini sebagian terbesar wartawan, secara tak sadar, telah kejangkitan virus yang disebarkan oleh sebuah harian besar yang terbit di Jakarta. Tanpa merasa berdosa, dengan enteng mereka menggunakan kosakata yang salah: jelasnya, tandasnya, terangnya, akunya, bahkan juga batinnya atau batinku, sebagai pengganti katanya atau ujarnya. Barangkali mereka ingin membuat variasi. Padahal, orang Inggris saja hanya menggunakan say, says, said, tell, told – dan sama sekali tak berkeinginan membuat variasi.
Wartawan yang tidak mencintai bahasa adalah bebal, wartawan yang malas terjun melakukan reportase adalah goblok.***


---------------------------------------------------


*) Budiman S. Hartoyo, dikenal sebagai salah seorang di antara sedikit wartawan senior Majalah Berita Mingguan TEMPO, yang sampai berusia 69 tahun tetap konsisten sebagai jurnalis. Ia bahkan masih dipercaya sebagai penulis dan editor tamu majalah TEMPO. Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 5 Desember 1938, BSH -- demikian sahabat-sahabatnya sering menyebutnya -- praktis selama hampir seperempat abad bekerja di TEMPO, sejak 1972 (setahun setelah pertama kali terbit) hingga majalah tersebut dibreidel pada 1995. Sebelumnya ia bekerja di RRI Surakarta, dan menjadi koresponden beberapa media terbitan Jakarta, termasuk Kantor Berita Nasional Indonesia (KNI).
Setelah TEMPO dibreidel, ia bekerja di majalah Amanah, harian Media Indonesia, majalah D&R, majalah Gamma, kontributor Jurnal Pantau -- semuanya terbit di Jakarta, dan sejak 2003 ia dipercaya sebagai redaktur eksekutif majalah dwipekan alKiah. Di awal “era reformasi” BSH sempat menjadi salah seorang deklarator organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (1995) dan pendiri PWI-Reformasi (1998).
Selain sebagai wartawan profesional -- yang sangat concern pada penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta penulis jurnalisme literair yang langka -- BSH juga dikenal sebagai penyair. Beberapa puisinya sempat dimuat di beberapa majalah sastra terkemuka seperti Basis, Budaya (Yogyakarta), Gelanggang, Mimbar Indonesia, Sastra, Budaya Jaya, Horison (Jakarta). Namun, ia bukanlah penyair yang produktif. Dua puisinya, terakhir kali dimuat di majalah sastra Horison, Januari 2007. Ia baru menerbitkan dua kumpulan puisi: Sebelum Tidur (1972, sudah empat kali cetak ulang) dan Puisi-puisi Haji (bersama penyair Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri). Belakangan, ia sempat melakukan re-writing dua buku otobiografi: Marsekal Madya (Purn) Sri Bimo Ariotedjo dan pengusaha nasional Basyiruddin Rahman Motik.***

Tuesday, December 04, 2007

PUTU WIJAYA: "MENGARANG ITU BERJUANG!"

(Arsip majalah Berita Buku, Oktober/November 1995)

/ Budiman S. Hartoyo

Ia adalah seniman yang "berjuang" untuk hidup dari mengarang. Baginya, waktu harus digenggam, disiasati, agar bisa "dimainkan" hingga produktif. Begitu pula tema cerita dan lakon yang ditulisnya. Imajinasinya begitu liar, hingga tokoh-tokoh ceritanya "hidup" tak terkendali. Kreativitas yang luar biasa.

SIAPA pun akan kaget dan merasa terteror berhadapan dengan Putu Wijaya. Padahal, ia bukan garong atau teroris. Meskipun semua orang mngenalnya sebagai seniman, Putu tidak menampakkan diri sebagai "seniman" dengan rambut gondrong dan pakaian lusuh. Wajahnya tidak kuyu pucat karena kurang tidur atau lantaran terlalu banyak minum kopi dan merokok. Ia selalu tampil segar, dan gagah. Bahkan bisa dijamin ia akan tertawa ngakak terbahak-bahak jika orang menyebutnya lebih mirip seorang "jagoan". Atau pemuda masa kini.

Bayangkan. Tubuhnya yang tinggi kekar, dengan kulit sawo matang dan wajah keras itu, dibalut kaus oblong (lebih sering berwarna gelap, terkadang bergambar seperti kesukaan anak muda), celana jins (impor atau bikinan Cihampelas, Bandung), dan sepatu boot produksi Cibaduyut, atau sepatu kets seperti anak-anak muda. Dan di kepalanya selalu bertengger sebiji Baretta warna gelap, krem atau putih. Entah kenapa. Mungkin, siapa tahu, sebagai trade mark. Atau sekedar untuk menutupi kepalanya yuang botak berambut tipis itu.....

Tapi banyak orang, juga Putu sendiri, tidak ambil posing. Sebab, ia sudah "telanjur" dikenal sebagai seniman serba bisa dengan banyak ketrampilan: penulis cerita pendek, naskah drama, cerita dan skenario sinetron dan film, novel, essai, sutradara teater dan film. Bahkan pernah pula sebagai wartawan. Keistimewaan bangsawan Bali ini bukan hanya lantaran penampilan dan ketrampilannya, tapi juga tekadnya untuk menjadikan profesi kepengarangan sebagai sumber kehidupan.

Dan dia berjuang keras untuk itu. Tentu dengan tetap mempertahankan nilai sastra, tanpa tergelincir pada komersialisme. Ia tidak setuju pada pernyataan yang pernah dilontarkan oleh penulis lain, yang juga sangat produktif, Arswendo Atmowiloto, bahwa "mengarang itu gampang" – sebuah "rumus" mengarang yang sempat dibukukan, yang belakangan menjadi semacam panduan bagi para pemula. "Itu omong kasong," teriak Putu Wijaya dengan kening berkerut. Selama ini, Putu harus berjuang manaklukkan diri, waktu dan imajinasi untuk menulis.

Anda dikenal sebagai seniman serba bisa yang sangat disiplin dengan waktu, hingga sangat produktif.

Begini. Saya kan pernah bekerja di TEMPO. Ketika pertama kali bekerja di majalah itu, 1971, ada yang heran bahwa saya menjadi wartawan olahraga. Tapi justru di TEMPO itulah saya mendapat pelajaran berharga. Di sana saya dilatih oleh "budaya pers". Sebelum di TEMPO, untuk menyelesaikan sebuah cerita pendek, saya memerlukan waktu berhari-hari. Sebab, ketika itu menulis cerita pendek hanya sebagai kesenangan, menunggu datangnya inspirasi, tanpa target waktu. Ketika itu saya belum mengenal istilah dead line yang lazim di kalangan pekerja pers.

Kalau inspirasi macet atau sebuah kalimat patah, saya sulit melanjutkannya. Selama di TEMPO saya selalu ditekan dengan "batas waktu" yang disebut dead line itu. Saya belajar bekerja dengan "tekanan" untuk mengejar dead line, momok yang menakutkan itu. Walaupun bidang olahraga tidak saya sukai, tapi saya anggap sebagai tugas untuk mencari nafkah. Redaktur Pelaksananya Usamah, kebetulan juga wartawan dan dramawan. Dia selalu mengejar-ngejar saya agar segera menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.

Dan di situ saya belajar menulis sesuatu yang semula tidak saya ketahui, menyusun persoalan, belajar bekerja dalam "tekanan" waktu. Jadi saya berlatih menghargai waktu. Tapi barangkali saya memang sudah punya "bakat" untuk berdisplin. Waktu kecil dulu, ayah selalu mengajarkan saya menghargai waktu. Beliau memuja tokoh-tokoh dunia yang berdisiplin keras, seperti Hitler, Napoleon, Roosevelt. Karena sangat menghargai waktu, beliau makan cepat sekali, sebab katanya hidup ini berkejaran dengan waktu.

Beliau mendidik saya bangun pagi-pagi, jangan sampai kedahuluan matahari. Memang saya tidak harus jadi tentara. Beliau ingin saya jadi dokter. Mungkin beliau kecewa, tapi saya tidak mampu. Sebenarnya beliau tidak terlalu memaksa saya juga. Kalau tidak berhasil ya tidak apa-apa, tapi yang penting disiplin dalam belajar, misalnya. Beliau itu tuan tanah, tapi gaya hidupnya sangat sederhana. Mungkin karena semangat disiplin tadi. Walaupun bungsu dari lima bersaudara, saya tidak menikmati kemanjaan. Saya harus hidup disiplin.

Sejak kecil saya juga terbiasa hidup dalam suasana kompetisi, tapi tidak sampai berkelahi. Dengan latar belakang seperti itulah, maka ketika bekerja di TEMPO saya jadi terbiasa dengan "tekanan" batas waktu itu. Selain itu, saya juga belajar memformat pikiran dalam bentuk yang sangat saya senangi – seperti pernah saya diskusikan dengan Goenawan Mohamad – yaitu mengungkapkan sesuatu dengan gaya "orang bodoh". Jadi, yang lebih bodoh bisa memahami, yang lebih pintar tidak tersinggung karena tidak merasa digurui. Jadi enak dibaca.

Saya juga belajar menulis laporan jurnalisme denga gaya sastra, belajar mencari idiom baru dalam mengungkapkan pikiran, memilih kata yang tepat, menghindari pengulangan kata. Tapi terkadang pengulangan juga diperlukan untuk memberi tekanan. Saya juga belajar mendengarkan orang lain. Kalau mengarang karya sastra kan tidak mendengarkan orang lain. Tapi jurnalisme kelompok TEMPO mengharuskan interpiu berbagai pihak, bothside coverage. Saya belajar menetukan angle dengan keterangan dari berbagai pihak, hingga imbang.

Lantas bagaimana Anda membagi waktu dan membagi perhatian terhadap beberapa kegiatan, seperti menulis, latihan teater, dan sebagainya?

Saya ini aktor. Nah, seorang aktor yang terbiasa dengan akting kan terbiasa pula "berteman" atau "mempermainkan" perasaan-perasaan. Secara sadar saya bisa mengendalikan perasaan saya: marah dulu, lalu dua menit kemudian berhenti, lalu tertawa. Keaktoran inilah yang membantu sekali. Lalu, saya juga sutradara yang biasa mengatur atau bekerja sama dengan orang lain. Di lain pihak, saya juga penulis yang bercerita kepada oprang lain. Tiga hal itu membentuk disiplin tersendiri dalam proses kreatif saya.

Bagaimana "mempermainkan" perasaan itu, contohnya begini. Suatu hari isteri saya keguguran di Bandung, Maret 1994. Lalu saya ke rumah Harry Roesli untuk mencari teman ngobrol. Tapi dia tidak ada, lalu saya tinggalkan surat. Setelah itu saya ke Jakarta menulis skenario sinetron komedi Warung Tegal untuk TPI. Malam itu ibu dan bapaknya Harry Roesli menelepon, menasihati saya agar bersabar. Saya terharu dan menangis. Setelah itu saya kembali ke komputer menerusklan menulis skenario komedi. Sementara air mata saya bercucuran, saya menulis komedi yang harus lucu. Pahit dan manis sekaligus, saya nikmati.....

Jadi saya bisa menunda atau mempercepat perasaan. Akrobatik perasaan seperti itu bukan berarti mengurasi rasa simpati terhadap suatu musibah, tapi semata-mata agar bisa survive dan bisa tetap menulis. Jadi semacam kiat untuk mengatur waktu dan perasaan dalam menghadapi situasi yang berbeda. Seperti misalnya ketika ayah saya wafat, 1970. Ketika itu saya sedang menulis mengenai sebuah diskotik. Saya tentu saja sedih, tapi kesedihan itu saya tunda sebentar, sekitar dua jam, untuk menulis suasana diskotik yang meriah dan gembira.

Saya bisa mengatur diri dan waktu. Misalnya, saya sedang menulis lalu merasa capai, saya lantas beristirahat, tidur 10 menit. Itu cukup. Karena saya terbiasa disiplin, maka 10 menit kemudian saya benar-benar bisa bangun, kembali segar, dan kembali bekerja lagi. Saya tidak pernah telanjur pulas hingga pekerjaan terbengkelai. Metabolisme saya tidak seperti orang normal yang perlu tidur selama delapan jam. Kalau ada waktu saya tidur, tapi kalau tidak ada waktu untuk tidur, ya bekerja terus. Tapi jam enam sore kalau tidak ada yang dikerjakan ya ngantuk. Jadi, tidur itu bisa dicicil....

Saya bisa "berdamai" dengan kehidupan dan pekerjaan. Dewi, isteri saya, sering menyetop saya bekerja dan menyuruh saya istirahat. Tapi saya harus berhenti pada saat dan momentum yang tepat, yaitu ketika inspirasi sedang jalan. Saya teringat pada buku Mochtar Lubis di tahun 1960-an dulu, Tehnik Mengarang, yang sangat menyenangkan. "Kalau kau meninggalkan tulisan pada saat kau sedang bergairah menulis, maka kau akan mudah kembali pada tulisan tersebut." Berhenti sebentar, mengendapkan gagasan, lalu kembali menulis hingga bisa nyambung lagi. Jadi, jangan berhenti menulis pada saat inspirasi kita macet. Itu berbahaya sekali. Tulisan itu akan jadi batu.


PUTU Wijaya cukup "kejam" terhadap diri sendiri. Selain istrerinya, Dewi, menjaga kesehatannya dengan ketat, ia juga berusaha mendisiplinkan diri. Ia tidak merokok dan selalu minum air putih. "Minum sebagai kebutuhan tubuh, bukan hanya karena haus saja," katanya. Masakan sehari-harinya tidak dibumbui dengan vetsin. Dan dengan cermat Dewi mampu makanan yang berkolesterol dan yang tidak. Tapi ia tidak jogging. "Itu kan membuang-buang waktu saja. Apalagi udara di sekitar kita sekarang ini kan sudah tercemar," katanya.

Dulu pernah yoga, kini Putu melakukan olah pernafasan "segi tiga". Satu menit menarik nafas, satu menit menahan nafas, satu menit menghembuskan nafas. Perlahan-lahan dan sangat halus. Mula-mula bisa selama dua-tiga detik, lama kelamaan diperpanjang sampai satu menit. Berapa kali? "Sampai capai, sampai badan terasa panas dan berkeringat. Itu efektif sekali," katanya. Selain itu, begitu bangun pagi ia melakukan sit up dan push up sebanyak 60 kali, lalu lari di tempat. Luar biasa. Bayangkan, tubuh Putu Wijaya yang tegap kekar itu berleleran keringat....

Anda juga menulis repertoire drama absurd. Ini sebagai pilihan, ataukah memang dengan sendirinya Anda tumbuh sebagai penulis naskah absurd?

Begini. Banyak orang mengira saya ini tegang terus, karena hidup penuh disiplin dan sangat efisien menggunakan waktu. Padahal tidak. Saya ini hidup teratur, dan cukup santai. Pendeknya, hidup ini di tangan saya, dan bisa saya mainkan semau saya. Jadi lebih enak. Mungkin karena hidup saya yang teratur inilah, terasa ada sesuatu yang hilang. Dan yang hilang itu ternyata muncul dalam imajinasi saya. Imajinasi itu liar sekali. Bukan imajinasi yang dicari-cari atau direnung-renungkan, tapi muncul dengan sendirinya.

Tentu orang tidak percaya bahwa saya tidak dipengaruhi atau belum pernah membaca Iwan Simatupang atau Bertolt Brecht. Saya membaca Iwan dan Brecht, dan pengaruh para seniman besar itu memang tak mungkin dihindari. Tapi saya ini hidup dan berkarya seperti "menggelinding" saja, tidak terlalu takut pada pengaruh. Lagi pula tidak mungkin pengaruh itu bisa menggerakkan kita untuk berkarya. Sebab, kalau hanya karena pengaruh, orang tidak mungkin menjadi dirinya sendiri, apalagi menjadi besar.

Kembali pada imajinsi. Imajinasi saya banyak sekali, dan bergerak sangat liar. Saya tidak merasa heran karena saya bisa menikmatinya. Imajinasi itu bergerak tanpa batas-batas ukuran manusia yang normal. Hal itu bagi saya normal saja, karena saya anggap sebagai karunia Tuhan kepada saya. Tapi kadang-kadang, di tengah "menikmati" imajinasi yang liar itu, rasio saya meloncat dan bertanya kaget, "Lho maksudnya apa ini?" Tapi lantas saya biarkan saja. Itu sebabnya saya takut membaca karya yang sudah jadi. Lebih baik menulis karya yang baru.

Dalam menghidupkan imajinasi itu, ada banyak hal yang tidak kita sadari, tidak logis. Imajinasi jalan dan bergerak terus. Dan kadang-kadang saya tidak mengerti, kehilangan jejak. Setelah dicari-cari sebabnya atau urutannya, kadang-kadang ketemu kadang-kadang tidak. Kalau tidak ketemu ya saya biarkan saja. Kalau itu bagus, saya biarkan. Tapi kalau tidak bagus, saya mengubahnya. Tapi terkadang setelah diingat-ingat, ketemu juga. Pernah suatu naskah berjudul Lho saya coba hilangkan "aku"-nya. Setelah diikut-sertakan dalam sayembara, jurinya memaki-maki, "Gila! Naskah apaan ini?"

Bertahun-tahun kemudian saya membacanya lagi dan mengubahnya. Saya kembalikan "aku"-nya, dan jadilah seperti sekarang. Satu lagi, naskah novel berjudul Merdeka, bertahun-tahun saya membiarkannya. Belakangan saya baca lagi, dan saya ingin mengubahnya. Tapi kemudian saya putuskan untuk tidak mengubahnya, lalu saya kirimkan ke Balai Pustaka. Ternyata diterima, dan diterbitkan. Novel ini unik dan liar sekali. Sampai-sampai sastrawan Satyagraha Hoerip, mengkritik saya. Katanya, saya tidak bisa membedakan antara "bablas", "liar", dan "merdeka".

Seharusnya ia tahu, bahwa omongan atau pendapat tokoh dalam karya saya kan bukan pendapat saya. Kalau ada anggapan seperti itu kan lucu sekali, dan juga sangat berbahaya. Tokoh saya itu mencari apa arti kemerdekaan. Mula-mula sebagai "keliaran", lalu "kebablasan", lalu dia mencari dan mencari terus apa arti kemerdekaan itu. Kalau saya sendiri sih, tentu tahu apa arti kemerdekaan. Tapi tokoh saya kan tidak tahu? Jadi, kehadiran tokoh itu tidak selalu mewakili pengarang. Setelah saya jelaskan begitu, mas Oyik bisa paham.


MAS Oyik adalah panggilan akrab untuk sastrawan (alm) Satyagraha Hoerip. Adapun (alm) Iwan Simatupang adalah sastrawan yang karya-karya novelnya dinilai absurd oleh beberapa kritikus sastra. Seperti, Kering, Ziarah, Merahnya Merah, Koong, Tegak Lurus dengan Langit. Banyak kritikus, antara lain Goenawan Mohamad, membandingkan Putu dengan Iwan. Ia menulis, "Seperti halnya cerita-cerita pendek Putu, fiksi Iwan juga memeriahkan yang mustahil dan ganjil sebagai bagian sehari-hari dari alam dan manusia, di mana (khususnya bila kita ingat novel pendeknya, Koong), pergantian antara gila dan geli acap kali tidak menempuh garis batas yang tegas -- sebuah pergantian nang mungkin hanya sekedar satu plesetan kosmis. Tetapi karya-karya Iwan seperti Merahnya Merah atau Ziarah atau Kering adalah cerita-cerita dengan hero yang gagah, tunggal, final. Dengan kata lain, sebuah kehadiran yang tak pernah terganggu-gugat, bahkan suatu tauladan stabilitas. Fiksi Iwan adalah ‘hero sentris’, fiksi Putu Wijaya nyaris tidak memilih satu sentrum manapun."

Anda menulis sejak duduk di sekolah menengah?

Sebenarnya sejak masih di SD saya sudah menulis. Saya selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran mengarang. Saya senang kalau disuruh oleh guru bercerita di depan kelas. Suatu hari saya bercerita sangat lancar dan kawan-kawan sekelas tertawa terbahak-bahak. Saya bercerita terus sampai bel berbunyi, tidak menyadari bahwa jam pelajaran sudah usai. Secara serius saya menulis ketika duduk di kelas III SMP. Cerita pendek saya yang pertama dimuat di harian Suluh Indonesia edisi Denpasar, dan kemudian di rubrik remaja majalah Mimbar Indonesia (Jakarta) yang bernama Fajar Menyingsing.

Sejak itu saya merasa bisa mereka-reka, dan ingin menulis buku, menjadi pengarang. Tapi ketika itu masih sangat sulit untuk menyusun kata-kata. Suka macet. Kemudian saya bertemu dengan Kirdjomuljo. Pengarang senior dari Yogya ini sering ke Bali. Ketika itu saya bersekolah di Singaraja. Malah dia juga diminta oleh kepala sekolah saya, Ibu Gedong, untuk melatih anak-anak bermain drama. Saya main dalam lakon Badak karya Anton Chekov terjemahan Nasjah Djamin. Ketika mempersiapkan pementasan, Kirdjo berkenalan dengan teman saya, anak orang kaya. Dia bilang, "Kalau saya jadi temanmu, punya mobil, punya mesin tulis, saya akan berjuang."

Saya heran, apa hubungan atara mengarang dan berjuang? Mengarang kok berjuang? Mengapa mengarang harus berjuang? Ketika itu yang disebut "berjuang" kan perang atau revolusi. Ternyata maksud Kirdjo, kalau sudah punya mesin tulis dan sebagainya, tidak dengan sendirinya kita bisa menjadi pengarang. "Kau harus berjuang untuk menjadi pengarang." Kata-kata Kirdjo itu benar-benar menusuk saya. Sejak itu, konsep "mengarang itu berjuang" benar-benar merasuk, mempengaruhi jiwa saya. Jadi, kreativitas itu harus diciptakan, kita harus bekerja keras untuk melahirkannya, bukan sekedar menunggu ilham.

Jadi, saya harus bekerja keras. Menubruk kesempatan apa pun. Ada sayembara mengarang, saya tubruk. Ada kesempatan menulis di majalah atau koran, saya tubruk. Saya benar-benar bekerja keras untuk menulis buku. Kalau perlu saya bacakan supaya orang mau membacanya pula. Tapi, saya tidak pernah berhasil menulis puisi. Puisi saya tidak pernah dimuat. Ketika itu Umbu Landu Paranggi sudah berkibar sebagai penyair. Saya menulis surat perkenalan kepadanya, tapi tidak dibalas. Kurang ajar! Sekarang dia di Bali, tapi tidak tahu di mana. Misterius sekali dia itu.

Minat saya mengarang barangkali karena ketemu dengan Kirdjo itu. Tapi, sebelumnya saya memang suka membaca. Ayah saya punya koleksi buku yang lumayan. Saya membaca komik Mahabharata dan Ramayana-nya RA Kosasih, cerita Winnetouw-nya Karl May. Saya juga membaca koleksi buku abang saya. Yang paling mngesan ialah Komedi Manusia-nya William Saroyan, juga Dongeng-dongeng Anderson terjemahan Darmawidjaja. Sampai sekarang sudah sekitar 500 cerita pendek saya tulis. Buku sekitar 30-an, terdiri dari novel dan kumpulan cerita pendek. Yang akan terbit kumpulan esei yang belum dipublikasikan.

Penyair Sapardi Djoko Damono tertarik pada kumpulan esei itu, karena katanya, merupakan "gabungan" antara puisi, cerita pendek dan esei. Judulnya Zat, segera akan diterbitkan oleh Pustaka Firdaus. Juga akan terbit kumpulan cerita pendek saya, Yel, judulnya sama dengan naskah drama saya. Naskah drama saya yang berjudul Zat juga ada. Skenario film sekitar 15, tapi yang jadi film hanya beberapa. Skenario sinetron banyak. Ada Pas sebanyak 52 seri, ada None 39 biji, Warung Tegal 20 buah, yang terakhir Jari-jari Cinta, baru selesai tiga seri. Semuanya hampir 100 naskah.

Banyak orang berpendapat sastra kita lesu. Bagaimana pendapat Anda?

Tidak lesu, ah. Pengarang menulis terus, buku terbit terus. Cuma publlikasinya yang kurang, sering kali buku-buku sastra tidak terpampang di toko-toko buku. Selain itu, masyarakat kita lebih banyak memperhatikan hal-hal lain, seperti sinetron atau film di televisi, meski sejak dulu pun perhatian orang pada sastra memang sedikit. Apalagi sekarang perhatian masyarakat sudah jauh lebih kompleks. Dan banyak pengarang yang tidak menganggap mengarang sebagai pekerjaan. Setelah kawin dan punya pekerjaan lain, mereka tidak mengarang lagi. Karena mereka menganggap, mengarang itu tidak bisa menjadi sumber penghasilan.

Meskipun buku laris, pengarang masih sulit hidup karena pajaknya sangat besar, 15%. Sementara royaltinya cuma 10%. Ini kan cilaka! Karya sastra yang mencerdaskan bangsa dan memperhalus budi pekerti mestinya dipajak 0 prosen. Celakanya, karena pajak yang sangat besar itu, penerbit terpaksa menekan pengarang. Juga karena tidak ada jaminan bahwa buku akan laku. Karya sastra mestinya mendapat subsidi berupa keringanan pajak atau harga kertas untuk buku-buku sastra diturunkan. Atau buku-buku itu diborong oleh pemerintah. Dan jangan lupa: pelajaran sastra di sekolah harus digalakkan.

Di lain pihak, mengapa majalah sastra sulit hidup?

Tidak hanya di Indonesia, di mana-mana majalah sastra itu sulit hidup. Kesepian, miskin, dan honorariumnya paling kecil. Menurut saya, sastra itu janganlah dikapling-kapling. Sastra harus "bergerilya" masuk ke semua sektor kehidupan. Sebenarnya kesenian kita itu kan menyatu dengan kehidupan rakyat. Hanya kemudian karena pengaruh cara berpikir orang Barat, kita lantas mengkapling sastra, lalu ada majalah sastra. Mula-mula ketika dinobatkan, sastra menjadi "raja" di kapling itu, tapi lama kelamaan tidak berharga karena tidak ada kaitannya dengan kehidupan.

Karya sastra tidak harus dimuat di majalah sastra. Majalah sastra boleh saja ada, tapi kalau hidupnya Senin-Kemis ya jangan disesali. Lebih baik sastra muncul di berbagai media massa seperti sekarang. Di harian Pos Kota pun saya pernah menulis cerita pendek. Dan di media massa seperti itu belum tentu mutu cerita pendeknya jelek. Malah yang di majalah sastra ada cerita pendek yang mutunya lebih buruk. Jadi, sastra mustri "menyerbu" dan "bergerilnya" di mana-mana. Tidak harus terpuruk di sebuah kapling yang namanya majalah sastra.

Anda hidup dari mengarang. Bagaimana caranya?

Dulu saya mendapat nafkah ketika bekerja di TEMPO, sehingga bisa bebas mengarang. Saya tidak memberi beban apa-apa kepada karangan saya. Lain halnya kalau semata-mata hanya mengarang sebagai satu-satunya sumber kehidupan. Itu mungkin bisa. Dengan begitu saya memberi dua tugas kepada karangan saya: memberi hidup kepada saya dan memberi kehidupan kepada karangan itu sendiri. Dengan bekerja keras dan disiplin, saya kira kita bisa hidup dari mengarang. Meskipun hidup sederhana. Tapi, kalau kita menginginkan hidup yang lebih enak lagi, ya harus bekerja lebih keras lagi.

Artinya, kita harus menganggap mengarang sebagai pekerjaan. Seminggu dua kali menulis cerita pendek, saya kira bisa menghidupi pengarang. Apalagi kalau kita juga menulis berbagai skenario sinetron atau film. Mengerjakan film satu kali setahun kan sama dengan bekerja di TEMPO selama setahun. Jadi klop. Apalagi sinetron kan merupakan kelipatan sekian kali dari film. Nah, di tengah kesibukan bekerja kreatif seperti itu kita harus selalu "terjaga". Tapi, dalam keadaan kepepet dan terpaksa pun, kita harus waspada dengan mutu.

Jadi, saya tidak pernah merasa hina menulis di majalah pop seperti Aktuil yang terbit tahun 1970-an di Bandung, atau di harian Pos Kota atau Sinar Pagi (keduanya terbit di Jakarta), seperti halnya saya juga menulis di majalah wanita seperti Femina atau majalah sastra Horison. Dan gaya saya tetap saja terjaga. Masih seperti dulu ketika saya menulis untuk TEMPO, bisa dibaca oleh semua orang, dari menteri sampai tukang becak, "enak dibaca dan perlu". Semua orang bisa mengerti, bisa paham. Seperti motto majalah Minggu Pagi yang terbit tahun 1950-an di Yogya, "enteng berisi." Nah. Tapi, justru itulah yang sulit.

Anda lahir sebagai orang Bali, tapi tampil sebagai pengarang garda depan dengan karya-karya absurd. Jangan-jangan ada yang bilang Anda bukan orang Bali lagi karena sudah kehilangan akar radisi.

Banyak orang tak punya referensi tentang Bali sehingga yang dilihatnya hanyalah Bali yang fisik saja. Tapi, kalau Anda baca karya-karya saya, dan Anda tahu tentang Bali, ya itulah Bali. Orang Bali yang membaca tulisan saya bisa merinding. Ada naskah drama saya, Awas (1979). Suatu hari saya ketemu orang Bali di Yogya yang sempat menyaksikan drama itu. Ia merinding karena imaji-imajinya yang khas Bali. Beberapa waktu lalu ketika saya bawa drama ke Brunei Darussalam, ada orang Bali yang nonton merasa seperti mendengar kidung Bali, gending Bali. Padahal drama itu abstrak dan modern sekali. Dan secara fisik atau formal tidak ada "Bali"-nya.


PUTU Wijaya lahir dan besar di Bali. Dan ternyata tetap berakar di sana. Imajinasinya yang liar, yang suka aneh-aneh seperti tampak pada karya-karyanya, agaknya tak lepas dari "roh Bali" yang oleh sebagian orang dinilai absurd. Gending, kidung, tarian, atau kehidupan yang menyatu dengan kesenian, barangkali juga absurditas itu sendiri. Seperti lukisan tradisional Bali yang tanpa fokus, yang "liar" dan campur aduk: ada upacara ngaben, pemujaan di pura, skuter lewat, anak-anak bermain, atau adegan humor lainnya.

Sastrawan berdarah bangsawan itu bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Ia lahir di Puri Anom, Saren, Kangin, Tabanan, Bali, pada 11 April 1944. Ia anak ketiga, bungsu, dari pasangan I Gusti Ngurah Raka (wafat 1970) dan Mekel Erwati (wafat 1992). Resminya ia bergelar sarjana hukum dari Jurusan Perdata Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 1969, juga pernah kuliah di ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film) selama tiga tahun, dan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) selama setahun, semuanya di Yogyakarta. Menulis sejak masih duduk di bangku SMP, cerita pendeknya yang pertama berjudul Etsa, dimuat di harian Suluh Indonesia edisi Denpasar.

Pertama kali ia bermain drama ketika masih duduk di bangku SMA dalam lakon Badak terjemahan Nasjah djamin dari karya dramawan Rusia kaliber dunia, Anton P. Chekov, disutradarai oleh penyair Kirdjomuljo. Sebelum bergabung dengan Bengkel Teater pimpinan WS Rendra (Yogya, 1967-69), ia sudah mendirikan kelompok teater sendiri. Belakangan ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Teater Kecil-nya Arifin C. Noer. Sempat bermain sekali dengan Terater Populer-nya Teguh Karya, selanjutnya ia mendirikan grup sendiri, Teater Mandiri (1971). Sejak itu, setiap tahun Teater Mandiri mementaskan naskah-naskah karya Putu di Taman Ismail Marzuki dan Gedung Kesenian Jakarta.

Pernah bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres dan TEMPO, kemudian pemimpin redaksi majalah Zaman, pengalaman kerja keseniannya di luar negeri sangat beragam. Ia pernah tujuh bulan bekerja di lingkungan masyarakat komunal petani di Itoen (Kyoto, Jepang) yang menganggap kerja sebagai ibadah, juga sempat mengikuti International Writing Program selama delapan bulan di Iowa, Amerika Serikat, kemudian bermain drama di Festival Teater Nancy, Prancis. Belakangan ia kembali ke AS sebagai dosen dan sutradara tamu atas undangan Yayasan Fulbright (1985-88).
Ketika itu ia mementaskan naskah Gerrr di Madison, Connecticut, dan Aum di LaMaMa, New York. Ia juga membawa Yell bermain keliling AS dalam rangka program KIAS (Kebudayaan Indonesia – Amerika Serikat, 1991). Tahun berikutnya ia mendapat professional fellowship dari The Japan Foundation untuk menulis novel sekaligus sebagai dosen tamu di Center for Southeast Asian Studies, Universitas Kyoto, Jepang. Prestasinya di dunia film pun cukup meyakinkan. Ia menyutradarai tiga film (Cas-Cis-Cus, Zig-Zag, Plong), tiga sinetrion serial (Pas, None, Warteg), dan menggondol tiga Piala Citra untuk skenario film layar lebar (Perawan Desa, Kembang Kertas, Ramadhan dan Ramona).
Selain mendapat SEA Write Award (Bangkok, 1980), ia juga mendapat Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1991). Beberapa karyanya (cerita pendek, novel, drama) telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, antara lain, Arab, Belanda, Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, Thai, Inggris. Menurut penyair dan budayawan Goenawan Mohamad, cerita Putu bisa memikat karena pembaca "terpaksa" ingin menguntitnya terus, tak tahu ke mana tiba-tiba ia akan berbelok. Atau berkelit ke arah yang tidak terduga.
Selanjutnya mantan pemimpin redaksi Majalah Berita Mingguan TEMPO itu menulis dalam kata pengantarnya untuk kumpulan cerita pendek Blok: "Ia tak hanya berkecamuk di dataran dunia di luar kesadaran. Ini terutama nampak setelah Bila Malam Bertambah Malam, sebuah drama tetapi juga sebuah novel pendek tentang sengketa keluarga, dan dalam arti batas tertentu juga Pabrik, sebuah cerita dengan beberapa tokoh dalam satu latar sosial yang kecil. Pada perkembangan berikutnya, fiksi Putu Wijaya – dan ini dengan kuat mulai nampak dalam Telegram, sebuah novel – adalah catatan kesadaran yang berdenyut, berpusar dan menendang, seakan-akan tanpa awal dan tanpa akhir. Pada gilirannya, yang hadir adalah multiplisitas. Mengasyikkan: bersama dan di dalam sang cerita kita pun bergerak, naik turun, di pelbagai lipatan, tak putus-putusnya."
Blok adalah kumpulan 57 cerita pendek, tebal 520 halaman, terbitan PT Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994. Buku ini cukup istimewa, dikumpulkan oleh Dewi Pramunawati, sang isteri, untuk memperingati ulangtahun ke-50 sang suami. Blok juga sebagai tanda syukur dalam menunggu kehadiran bayi pertama setelah mereka menikah selama sembilan tahun. Sayang, yang ditunggu-tunggu keguguran pada hari Lebaran 1994. Isteri Putu Wijaya yang pertama (kemudian berpisah) ialah artis Renny Djajusman, dengan seorang putri yang kini sudah dewasa, Yuka Mandiri. Kumpulan cerita pendek ini merupakan retrospeksi dari sekitar 500 cerita pendek yang berserakan di berbagai media massa. Ada yang ditulis ketika Putu baru saja pindah ke Jakarta (Ini Sebuah Surat, 1969), ketika masih bujangan dan bekerja di TEMPO (Budak), ketika berada di AS (Keris), ketika di Kyoto (RRT), Juga ada yang belum dipublikasikan (Babu, 1994).
Selain Blok, kumpulan cerita pendek Putu yang lain, Es, Bom, Gres, Protes. Putu juga menulis beberapa novel, antara lain, Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Stasion, Keok, Sobat, MS, Ratu, Tak Cukup Sedih, Tiba-tiba Malam, Lho, Pol, Perang, Nyali, Merdeka. Novel Lho berangkat dari "sensasi pikiran" yang timbul secara mendadak untuk membunuh. Dengan ekstrim Putu menarik berbagai pikiran tokoh-tokohnya hingga kewarasan dan kegilaan menyatu. Dan ketika sang tokoh sadar dan berdamai dengan kenyataan kehidupan, ia menemukan dirinya terbaring di sebuah ranjang sebuah rumah sakit jiwa: "Lho".
"Membaca cerita pendek Putu – yang diperluas kandungan setiap kata-katanya – tak ubahnya membaca roman yang panjang (dwilogi, trilogi, atau tetralogi), karena cerita-cerita pendek itu seperti halnya perjalanan kehidupan manusia," tulis kritikus sastra H.B. Jassin untuk kumpulan cerita pendek Blok. "Bukan saja dalam abad tempat ia hidup, akan tetapi juga dalam hidupnya di masa silam, sementara ia mengejar abad yang berlari ke masa depan yang tiada bertepi dan tiada berakhir," lanjutnya.
Setelah membaca cerita pendek Putu, misalnya yang dikunmpulkan dalam Protes, kesan yang umumnya timbul ialah, karya-karya itu kaya imajinasi dan simbol, sugestif dan dinamis. Kerap kali seperti protes terhadap bentuk pengucapan literer yang konvensional. Dalam cerita-cerita pendek itu, Putu sesekali memang melontarkan kritik sosial, tapi tetap konsisten dengan konsep "teror mental"-nya yang menggemaskan. Protes semakin mempertegas sosok Putu sebagai seniman garda depan yang serba bisa, enerjik dan produktif.
Tapi, apa kaitan cerita pendek dengan "teror"? Dalam sebuah eseinya berjuduil Cepen, Putu Wijaya menulis:

Sebuah cerita pendek bagaikan mimpi baik atau buruk. Tidak terlalu penting urutan atau jalinannya, karena kadang-kadang ada, kadang kala tidak. Yang utama, pekabaran yang dibawanya, daya pukau, daya magis, tamsil, ibarat, tikaman jiwa, firasat dan berbagai efek yang diberondong menyerang siapa yang mengalami mimpi. Ia bisa gamblang, jelas, mendetil dan persis melukiskan apa yang akan terjadi, tetapi ia juga bisa buram sama sekali sebagai ramalan yang memerlukan tafsir. Cerita pendek adalah teror mental kepada manusia.

Bacalah bagaimana Putu Wijaya membuka ceritanya. Misalnya, ketika ia memulai bercerita dalam Merdeka, dalam kumpulan cerita pendeknya Protes. Ia menulis pergulatan batin tokohnya dengan gamblang dan menarik:

Di dalam penjara, Bandot bermimpi tentang kebebasan. Kemerdekaan, kenikmatan, keleluasaan, keadilan yang lebih baik, kebahagiaan, kepuasan, dan pembalasan dendam. Ia telah melakukan serentetan kejahatan yang menyebabkan alat negara menyeretnya ke meja hijau dan kemudian palu hakim menendangnya ke bilik jeruji besi. Tetapi, setiap malam ia bukannya merasa telah membayar dosanya, ia justru menganggap dibusukkan secara sewenang-wenang. Jiwa raganya berontak, berang, dan semakin mendendam.....

***

Friday, November 23, 2007

SOEBAGIJO I.N.: PEMBURU PARA TOKOH

(Arsip majalah Berita Buku, Agustus 1996).


/ Budiman S. Hartoyo


JAGAT perbukuan Indonesia niscaya tak asing dengan nama Soebagijo I.N. Demikian pula para wartawan dan pengarang senior. Selama tak kurang dari setengah abad, Soebagijo Ilham Notodidjojo (begitu nama lengkapnya) dikenal sebagai penulis biografi sejumlah tokoh nasional. Dan, sampai di hari tuanya, bapak enam anak dan kakek tujuh cucu ini tetap setia dengan profesinya sebagai wartawan dan pengarang. Ia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 5 Juli 1924.


Bahkan, inilah yang mengagumkan, selama ini ia menghidupi keluarganya hanya dengan hasil goresan penanya belaka. Sampai sekarang! Dengan bangga, dan tentu disertai rasa syukur, ia menyatakan bisa hidup dari menulis. Dan semua anak-anaknya sudah mentas alias “jadi orang”. Cucu pertamanya bahkan sudah menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi. Rumahnya di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, ukuran 22 X 12 meter persegi, juga dibeli dan dibangun dengan penghasilannya sebagai penulis.


Sampai di hari tuanya kini, meski harus cukup berhati-hati lantaran penyakit vertigo yang diidapnya, Pak Bagijo masih tampak sehat. Agaknya “kamus pikun” sama sekali tak dikenalnya. Gerak-geriknya masih lincah, cara bicaranya masih renyah, ingatannya masih jernih. Usai shalat Shubuh, ia masih rutin olah raga jalan kaki di sekitar rumahnya selama kurang lebih 15 menit. Ia lebih banyak berada di rumah: membaca, mengkliping koran, menulis. Kadang-kadang juga menerima tamu, termasuk beberapa wartawan yang menginterviunya.


Akan tetapi ia juga masih berusaha menyempatkan diri menghadiri seminar, diskusi atau pertemuan-pertemuan yang dianggapnya penting, yang umumnya berkaitan dengan sejarah atau pers. Uniknya, sampai saat ini ia masih menulis dengan mesin ketik, bukan komputer. “Saya sering diledek oleh anak-anak dan cucu saya. Mereka bilang saya sudah kuno, karena masih menggunakan mesin tulis,” katanya sembari tertawa terkekeh-kekeh. Namun, tak kalah dengan penulis yang menggunakan komputer, sampai kini sudah puluhan buku lahir dari tangannya. Sebagian besar berupa biografi para tokoh nasional, politisi atau negarawan pelaku sejarah. Selebihnya buku mengenai masalah lain, baik berupa terjemahan atau hasil suntingan.


Beberapa biografi itu, antara lain, Wilopo 70 Tahun (1969), Jusuf Wibisono, Karang di Tengah Gelombang (1980), Sudiro, Pejuang Tanpa Henti (1981), S.K. Trimurti, Wanita Pengabdi Bangsa (1982), K.H. Masjkur, Sebuah Biografi (1982), K.H. Mas Mansur Pembaharu Islam di Indonesia (1982), Mr. Sudjono, Mendarat dengan Pasukan Jepang di Banten 1942 (1983), Harsono Tjokroaminoto Mengikuti Jejak Perjuangan Sang Ayah (1985), Adinegoro, Pelopor Jurnalistik Indonesia (1987).


Biografi pertama yang ia tulis ialah mengenai Nyoman Idayu, ibunda Bung Karno, Pengoekir Djiwa Soekarno (1949). Belakangan ia juga menulis biografi Bung Karno dalam bahasa Jawa, Boeng Karno saka Soekamiskin tekan Istana Merdeka (cetakan ke-5, 1960). Buku lainnya kebanyakan mengenai pers. Misalnya, Lima Windu Antara, Sejarah dan Perjuangannya (1978), atau biografi singkat para pelopor pers nasional, Jagat Wartawan Indonesia (1981), yang pernah diresensi di harian Asahi Shimbun, Tokyo, edisi 23 Juli 1981.


Ada satu hal yang mendorong Pak Bagijo tertarik menulis biografi para tokoh nasional. Ia beruntung, gairahnya sebagai wartawan mulai marak di masa awal revolusi bersenjata, ketika bangsa Indonesia tengah merebut kemerdekaan. Dalam usia menjelang 30 tahun itu, ia mengenal dari dekat para the founding fathers Republik Indonesia: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agoes Salim, Wondoamiseno, Soekiman, Natsir, Kasman Singodimedjo, Wilopo, Tan Malaka, Alimin, Ki Hadjar Dewantara, Amir Sjarifuddin, Arudji Kartawinata. Dan masih banyak lagi.


Selain itu ada tiga tokoh pers dan sastra yang mendorong semangatnya untuk meneruskan minatnya sebagai penulis biografi. Misalnya, Ayat Djajadiningrat. Pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Ekspres, yang terbit di Surabaya ini, sekitar tahun 1950-an sempat memuji dan mendorongnya untuk menulis biografi para tokoh nasional. “Kalau bisa juga tokoh-tokoh lain, termasuk para pengusaha, dan sebagainya. Kelak hasilnya bisa untuk bekal sesudah pensiun, “ kata Ayat ketika itu.


Dalam perjalanan keliling Amerika Serikat atas undangan lembaga penerangan AS, USIS (1957), Djamaluddin Adinegoro – seniornya yang kelak diakui sebagai salah seorang perintis pers nasional – menyatakan kepada Soebagijo, agar selain menjadi wartawan juga berusaha keras menjadi pengarang. Belakangan, sastrawan dan sejarawah Prof.Dr.Brigjen Nugroho Notosusanto pun – yang sering ditemuinya untuk mencari bahan penulisan biografi para pelaku sejarah – juga mendorongnya agar meneruskan profesinya sebagai penulis biografi.


Kekagumannya terhadap seorang tokoh juga merupakan salah satu motivasi yang mendorongnya untuk menulis biografi. Di masa remajanya, suatu hari di tahun 1941, ketika belajar di sekolah guru HIK Muhammadiyah Yogyakarta, ia shalat Jumat di masjid Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ketika itu kebetulan yang berkhotbah ialah K.H. Mas Mansur, ketua umum PP Muhammadiyah, yang juga salah seoarng tokoh nasional yang disejejarkan dengan Soekarno dan Hatta.


Jumat siang hari itu, cuaca sangat panas. Dan Soebagijo datang terlambat, karena itu ia hanya kebagian tempat di luar masjid. Ketika shalat dimulai, dan sang imam membaca surah Al-Fatihah, Soebagijo terguguk, airmatanya meleleh. “Ketika itu suara Kiai Mas Mansur mengalun, sungguh-sungguh menyentuh perasaan, menunsuk jantung di rongga dada saya. Senar-senar jiwa yang paling halus bergetar. Dan begitulah yang terjadi, saya menangis terisak-isak. Ya, shalat sambil menangis terisak-isak,” tulisanya dalam prawacana untuk buku biografi K.H. Mas Mansur .


Lalu tulisnya lagi, “Nama Mas Mansur terkenal di mana-mana, sebagai seorang pemimpin yang tidak berambisi, seorang yang polos, seorang alim, seorang organisator dari pesantren yang mampu bergerak di kalangan terpelajar atau intelektual. Masih nampak selalu di pelupuk mata, bagaimana wajah raut mukanya, cara dia berjalan, berbicara, mengucapkan pidatonya, caranya berpakaian, yang semuanya menggambarkan serba kesederhanaan.”


Dan 40 tahun kemudian, setelah Jumat siang yang berurai air mata itu, Soebagijo menulis biografi orang besar itu.


KARIR Soebagijo dimulai sebagai sastrawan yang menuliskan karyanya dalam bahasa Jawa. Cerita pendeknya, Nyuwun Pamit, Kyai (Mohon Pamit, Kyai), yang bercerita tentang pergulatan batin seorang anggota Hizbullah – lasykar rakyat yang beranggotakan para pemuda pejuang Islam di awal perjuangan kemerdekaan – dimuat di majalah Pandji Poestaka, Maret 1945. Sedangkan karya geguritan atau puisinya, Gegambaran (Perumpamaan) dimuat di majalah Api Merdeka, Januari 1946, terbitan Ikatan Pelajar Indonesia, Yogyakarta.


Dua karya Pak Bagijo itu belakangan dimuat dalam antologi karya sastra berbahasa Jawa, Javanese Literature since Independence, an Anthology (1979) dengan kata pengantar Dr. J.J. Ras, guru besar universitas Leiden, Belanda, yang juga pakar bahasa dan sastra Jawa. Dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir (1985) itu, Pak Bagijo disebut sebagai salah seorang “pelopor generasi penulis cerita pendek dari masa sesudah perang.”


Sebelumnya, masih di bangku sekolah di masa pendudukan Jepang, ia sudah menulis di majalah Indonesia Merdeka terbitan Djawa Hookoo Kai, sebuah lembaga kebudayaan bentukan Jepang. Dan di awal masa kemerdekaan, ia menjadi pemimpin redaksi majalah Api Merdeka (PB IPI) dan Djiwa Islam terbitan PP Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Yogyakarta. “Ketika itu saya belum profesional. Baru setelah menjadi wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara pada 1946, saya mulai profesional,” ujarnya. Dan sejak itulah ia mengenal dari dekat para tokoh nasional.


Pengalamannya sebagai wartawan ia ceritakan dalam sebuah artikel berjudul Menjadi Wartawan “Antara” Setengah Abad Yang Lampau yang dimuat dalam buku Mengabdi kepada Republik melalui Kantor Berita Antara (1985). Dalam buku yang disuntingnya itu, dimuat pula sejumlah pengalaman para pensiunan wartawan, markonis dan pegawai Antara lainnya. Masih segar dalam ingatan, tugasnya pada minggu pertama magang sebagai wartawan yunior. Kala itu, ia meliput pertemuan Sri Sultan HB IX dengan para bupati di seluruh Yogyakata, 1946, untuk konsolidasi Republik.


Ketika itu, dalam setiap kesempatan, misalnya dalam rapat-rapat umum, para artawan mendapat kehormatan luar biasa. Bayangkan pengalaman Pak Bagijo kala itu: meski cuma berpakaian sederhana dan mengendarai sepeda alias “kereta angin” ia – bersama wartawan yang lain – mendapat tempat duduk di pentas, sejajar dengan para pembesar seperti presiden, wakil presiden, panglima besar, menteri. Padahal, teman-teman sekolah, termasuk para gurunya, berjubel di lapangan yang siang itu panas terik....


Menurut Pak Bagijo, dibanding dunia pers sekarang, “dulu kami lebih bebas menulis.” Lagi pula, ketika itu, para wartawan sangat akrab dengan para pemimpin nasional. Pak Bagijo, misalnya, di akhir tahun 1948 pernah diajak oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam satu mobil. Ia duduk di jok belakang, mendengarkan beberapa hal mengenai situasi kemiliteran saat itu. Ia sendiri, sehari-hari memang sering bertemu dengan sang jenderal dalam pengajian Perserikatan Muhammadiyah di belakang Masjid Agung, Kauman, Yogyakarta.


Padahal, ketika itu ia baru dua tahun menjalani magang sebagai wartawan yunior. Di tahun itu pula, ketika Menteri Dalam Negeri Mr. Moh. Roem, kembali dari Kaliurang setelah berunding dengan Belanda, Pak Bagijo mencegat dan mewawancarainya sambil jalan kaki di Jalan Pakuningratan, Yogyakarta. Bahkan ia juga sempat berkenalan dengan para anggota delegasi RI itu. Ketika itu, tutur Pak Bagijo, para menteri hidup sederhana, kalau perlu jalan kaki jadilah. Ketika itu mobil penjemput Mr. Roem kebetulan mogok....


Tiga tahun menimba pengalaman di kantor berita, Pak Bagijo ingin mencoba berdiri sendiri. Belakangan, ia tampil sebagai wakil pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Panjebar Semangat, Surabaya. Akan tetapi akhirnya, 1957, ia kembali menjadi wartawan Antara, kali ini di kantor pusat Jakarta. Di sanalah ia menduduki jabatan yang cocok dengan minatnya sebagai penulis biografi yang membutuhkan bahan dokumentasi, yaitu Kepala Perpustakaan dan Riset (1982). Ia juga sempat menjadi kepala perwakilan LKBN Sntara di Beograd, Yugoslavia (1966-1968).


Di tengah kesibukannya sebagai wartawan dan penulis buku, ia masih sempat menjadi penulis lepas mengenai berbagai hal di sejumlah media massa, terutama sejarah pers nasional. Bukan hanya dalam bahasa Indonesia, tapi juga dalam bahasa Jawa. Bisa dimaklum, sebab di tahun 1950-an, selain menjadi redaksi Panjebar Semangat, ia juga mengasuh Taman Putra (lembaran anak-anak), Tjrita Tjekak (lembaran cerita pendek) dan Poestaka Roman (lembaran untuk novel), semuanya dalam bahasa Jawa.


Sejak tahun 1950-an pula, sampai 10 tahun kemudian, Pak Bagijo (dengan nema samaran “Haji SIN”) terkenal sebagai penulis kisah serial di majalah Minggoe Pagi, Yogyakarta. Rubrik yang sangat disukai oleh para pembaca itu ialah Spionage contra Spionage, yang kemudian dilanjutkan pemuatannya selama beberapa tahun di harian Berita Buana, Jakarta. Dengan mudah ia menulis kisah spionage di masa Perang Dunia I dan II itu, sebab memiliki koleksi sejumlah buku mengenai hal tersebut.


Menurut catatan Djojosantosa dalam bukunya, Taman Sastrawan (CV Aneka Ilmu, Semarang, 1990), sejumlah media yang memuat tulisan Soebagijo I.N. sejak tahun 1950-an, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, antara lain, Menara Merdeka (Kediri), Panjebar Semangat, Djaja Baja, Soerabaja Post, Soeara Oemoem (Surabaya), Kedaulatan Rakyat, Nasional, Mekarsari, Minggu Pagi (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), Kompas, Berita Buana, Warna Sari (Jakarta). Selain menggunakan nama asli, Pak Bagijo beberapa kali juga menggunakan nama samaran, seperti Pak SIN, Haji SIN, Satrio Wibowo, Anggajali, Damajanti, dan Endang Moerdiningsih.


Selain menulis, Pak Bagijo juga suka berorganisasi. Sejak masih anak-anak, ia sudah menjadi anggota kepanduan Muhammadiyah, Hizboel Wathan, sementara di masa remaja ia menjadi anggota staf Pengurus Besar Ikaran Peladjar Indonesia (PB IPI), dan sebagai pemuda ia aktif sebagai anggota Pengurus Besar Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PB GPII), keduanya berkantor pusat di Yogyakarta. Ikut mendirikan Himpunan Pernerjemah Indonesia (1970), belakangan ia menjadi ketua HPI Komisariat Jakarta Raya. Setelah pensiun dari Antara (1981), bersama para pensiunan Antara yang lain, ia mendirikan Kerukunan Purnantara (kemudian berganti menjadi Penantara), dan ia terpilih sebagai wakil ketua III (1986).


Walhasil, masyarakat perbukuan -- tentu saja juga pers Indonesia -- sangat menghargai jerih payah dan goresan pena Pak Bagijo. Akan tetapi secara formal, ia pernah menerima penghargaan yang memang layak dan pantas diterimanya. Pertama, Hadiah Buku Utama, penghargaan sebagai penulis buku terbaik dari Yayasan Buku Utama (1989), dan kedua Hadiah Sastra Jawa dari Yayasan Rancage (1994), atas jasanya yang sangat besar dalam melestarikan dan mengembangkan sastra berbahasa daerah, dalam hal ini bahasa Jawa.


***